Anggota KPK Minta Penyerang Novel Baswedan Dibebaskan Saja

0
138

Sumber: Jawa Pos

LiputanIslam.com — Anggota KPK periode 2010-2015, Busyro Muqoddas, meminta hakim memutuskan bebas terhadap dua orang terdakwa yang disebut sebagai penyerang penyidik KPK Novel Baswedan yang sebelumnya divonis satu tahun penjara.

“Mudah-mudahan hakim memutus bebas dengan dengan divonis bebas maka akan dilakukan penyelidikan ulang,” kata dia, dalam diskusi virtual “Sengkarut Persidangan Penyerang Novel Baswedan” yang diselenggarakan Indonesia Corruption Watch (ICW), di Jakarta, Jumat (19/6).

Baswedan melalui akun twitternya, @nazaqistsha, pada 15 Juni 2020 lalu juga mengusulkan pembebasan Mahulette dan Bugis.

Baswedan menuliskan “Saya juga tidak yakin kedua orang itu pelakunya. Ketika saya tanya penyidik dan jaksanya mereka tidak ada yang bisa menjelaskan kaitan pelaku dengan bukti. Ketika saya tanya saksi-saksi yang melihat pelaku dibilang bukan itu pelakunya. Apalagi dalangnya? Sudah dibebaskan saja dari pada mengada-ngada”.

Melanjutkan ucapannya, Muqoddas menyatakan, “Tapi menyerahkan penyelikan ke kepolisian, maaf sulit sekali dilakukan dalam proses ini. Jalan keluarnya jangan kasih ke polisi, kasihan banyak polisi yang masih jujur dan berintegritas, jadi bagaimana menelisik pelaku sesungguhnya adalah menggedor Presiden Jokowi untuk membentuk TGPF.”

Menurut dia, sejak Novel diserang pada 11 April 2017 lalu, suara mengenai pembentukan TGPF sudah digaungkan. Namun menurut dia, tak ditanggapi Jokowi.

“Ini seperti usulan bersama tiga tahun lalu yang tidak pernah digubris, karena bila hakim menggunakan nalar hukum berdasarkan analissi fakta dan hati nurani maka jelas menimbulkan keragu-raguan berat terhadap proses itu,” kata dia.

Baca juga: PDIP Sebut RUU HIP Bertujuan Mulia dan Harus Dimatangkan Ulang

Selain berharap pada majelis hakim yang mengadili kasus penyerang Baswedan, dia juga berharap pada majelis hakim Mahkamah Konstitusi untuk mengabulkan uji materi UU KPK.

Selain itu, ia juga mengatakan teror terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, sebagai teror bermata dua – baik untuk sang penyidik maupun untuk lembaga penegak hukum itu sendiri.

“Karena (penyerangan) Novel Baswedan tidak bisa dilepaskan duduk tugas dan tanggung jawabnya sebagai penyidik di KPK,” kata dia. (Ay/Antara/Liputan6)

DISKUSI: