Bagaimana Cara Kerja Vaksin Nusantara Terawan?

0
58

sumber: Kompas

Jakarta, LiputanIslam.com– Vaksin Nusantara merupakan vaksin Covid-19 yang diinisiasi dan dikembangkan oleh eks Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.

Vaksin ini ramai diperbincangkan karena banyaknya pro dan kontra. Di satu sisi, pihak Terawan mengklaim vaksin ini tahan mutasi virus corona dan dapat membentuk kekebalan seluler. Di sisi lain, sejumlah pengamat mengkritik vaksin ini perihal izin dari Komite Etik.

Dilansir dari CNN Indonesia, Anggota Tim Uji Klinis Vaksin Nusantara Jajang Edi Prayitno menyebut cara kerja vaksin ini dibangun dari sel dendritik autolog atau komponen dari sel darah putih, yang kemudian dipaparkan dengan antigen dari Sars-Cov-2.

Secara lebih spesifik, ada tiga macam sel di dalam darah manusia, yakni sel darah merah, sel darah putih, dan sel prekursor dendritik. Menurut, Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo sel prekursor dendritik belum menjadi sel dendritik.

Sel dendritik bisa tumbuh dengan diberikan secara khusus setelah sel prekursor dendritik ditumbuhkan di cawan laboratorium.

Masa inkubasi dari sel prekursor dendritik menjadi sel dendritik membutuhkan waktu beberapa hari. Pada masa itu, dia berkata ahli akan memberikan antigen ke sel dendritik.

Vaksin nusantara ini nantinya khusus untuk individual. Sebab dalam teknisnya, setiap orang akan diambil sampel darahnya untuk kemudian dipaparkan dengan kit vaksin yang sel dendritik.

Cara kerjanya, sel yang telah mengenal antigen akan diinkubasi selama 3-7 hari. Antigen adalah bagian dari virus atau virus yang dilemahkan yang dapat memicu tumbuhnya antibodi dalam tubuh manusia. Antigen terkandung dalam vaksin.

Hasilnya kemudian akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap Sars Cov-2.

“Maka dengan teknologi sel dendritik akan mampu melawan berbagai strain virus Sars Cov-2, meskipun saat ini virus tersebut telah berevolusi menjadi lebih dari 15 strain di seluruh dunia,” jelas Raditya.

Sejauh ini, pengujian vaksin lain kebanyakan menggunakan metode virus inactivated, mRNA, protein rekombinan, hingga adenovirus.

Kritik atas Vaksin Nusantara

Dilansir dari Tempo, Anggota Komisi Kesehatan atau Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Netty Prasetiyani meminta para pengembang Vaksin Nusantara memberi penjelasan terkait dugaan dilewatinya proses izin dari Komite Etik. Vaksin Nusantara dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menggandeng sejumlah institusi.

“Kami minta pihak yang terlibat harus bisa menjelaskan. Tuntutan masyarakat dan para ahli harus dibuktikan dengan data yang transparan bahwa memang vaksin ini aman dan penelitian serta pengujiannya sesuai standar berlaku,” kata Netty dalam keterangannya, Selasa, 23 Februari 2021.

Dugaan dilewatinya proses oleh Komite Etik ini sebelumnya dilontarkan para pakar. Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, meminta pemerintah menghentikan Vaksin Nusantara karena metode yang digunakan tidak teruji dan tidak ada izin dari Komite Etik tersebut. Adapun ahli biomolekuler dan vaksinolog Ines Atmosukarto mengatakan Vaksin Nusantara datanya diduga belum terlihat. (ra/tempo/cnn)

DISKUSI: