Indonesia Resmi Alami Resesi, Ini Dampaknya terhadap Masyarakat

0
99

Sumber: parstoday.com

LiputanIslam.com— Indonesia telah resmi mengalami resesi setelah dua kuatal berturut-turut terjadi kontraksi pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 terkontraksi 3,49 persen dan 5,32 persen pada kuartal II 2020.

Secara kumulatif dari periode Januari hingga September, pertumbuhan ekonomi tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,03 persen. Sedangkan secara kuartal, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen.

Baca: Indonesia Resmi Jatuh ke Lubang Resesi

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pertumbuhan pada kuartal III lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya karena ada proses perbaikan ekonomi. Namun, perbaikan ini tercapai dengan membengkaknya defisit anggaran.

Menurut data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), defisit anggaran pada periode Januari hingga September 2020 mencapai Rp 687,5 triliun atau setara dengan 4,16 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Kuartal III lebih baik dari kuartal II. Kuartal III kembali recovery. Fungsi stabilisasi dari APBN bersama dengan yang lain untuk menanggulangi pukulan demand dan supply,” kata dia, Rabu (4/11).

Dampak Resesi

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusur Rendy Manilet menilai, salah satu dampak resesi adalah meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia.

“Dampak ressesi ini kan terjadi di kuartal III, artinya sudah dilewati di tiga bulan ke belakang. Dampak yang paling terasa itu peningkatan pengangguran, karena seperti yang disampaikan oleh BPS bahwa di bulan Agustus ternyata ada peningkatan jumlah pengangguran,” ujarnya, Kamis (5/11).

Dia menerangkan, meningkatnya jumlah pengangguran disebabkan oleh sedikitnya penciptaan lapangan  pekerjaan baru karena pemulihan ekonomi berjalan lambat sehingga pelaku usaha menahan laju usahanya.

“Pelaku usaha yang masih akan menahan laju ekspansi usaha sehingga penciptaan lapangan kerja yang baru itu di kuartal IV nanti masih relative sedikit. Karena masih relatif sedikit, tentu akan berpotensi terhadap penambahan jumlah pengangguran dibandingkan bulan Agustus kemarin,” terangnya.

Sementara itu, menurut ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, di antara sejumlah dampak resesi terhadap masyarakat Indonesia adalah turunnya pendapatan di kelompok masyarakat menengah dan bawah secara signifikan. Hal ini bisa berpengaruh terhadap adanya penambahan jumlah orang miskin.

Kemudian, penduduk kota bisa berkurang sedangkan penduduk desa akan bertambah. Desa akan menjadi tempat migrasi pengangguran dari kawasan industri ke daerah-daerah karena gelombang PHK masal.

Dampak lainnya adalah tertahannya konsumsi rumah tangga. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, masyarakat akan cenderung berhemat untuk membeli barang-barang yang diperlukan saja. (sh/detik/kontan)

 

 

 

 

 

DISKUSI: