TV One dan Gejolak Isu Sunni-Syiah yang Tak Perlu Diteruskan

0
81

sumber foto: Kompasiana.com

LiputanIslam.com—Saya masih tak mengerti, mengapa TV One masih saja tertarik mengangkat isu Sunni-Syiah sebagai konten. Apalagi narasumber yang diundang adalah Ust Haikal Hassan yang kredibilitasnya terkait isu ini sangat diragukan. Mengapa? Karena Haikal Hassan adalah salah satu da’i dari kalangan ekstrem yang pendapat-pendapatnya tentang isu Sunni-Syiah sudah bisa ditebak, menyesatkan Syiah dan membuat hubungan antara kedua penganut aliran ini akan semakin retak. Haikal Hassan itu seperti membawa bensin dan menuangkannya ke atas percikan api. Hasilnya, api yang semula kecil akan berkobar besar dan merusak apapun. Tidak hanya pengikut Syiah, tapi pengikut Sunni itu sendiri. Padahal, sebagai seorang da’i, ia seharusnya membawa air dan memadamkan percikan perselisihan yang ada. Bukankah baik jika bangsa ini hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain?

Jika TV One ingin mencari titik-temu antara Sunni-Syiah, saran saya undanglah Ust Qurays Shihab yang kredibilitas pendidikan dan wawasan keislamannya sudah teruji di level internasional. Bahkan, Ust Qurays Shihab sudah menulis buku khusus berjudul “Titik-temu Sunni-Syiah” yang memuat segudang alasan mengapa para pengikut Sunni harus menghormati dan menghargai para pengikut Syiah.

Sebagai media nasional, TV One memang punya hak untuk mengundang siapapun narasumber yang mereka inginkan. Tapi, sikap TV One mengundang Haikal Hassan sangatlah pragmatis. TV One sengaja memanfaatkan kebencian sebagian orang terhadap Syiah untuk menaikkan rating dan penontonya. Secara ekonomi, akan kurang menguntungkan jika TV One mengundang Qurays Shihab. Tapi, perlu diketahui bahwa media itu seharusnya berperan untuk merajut persatuan dan membangun kehidupan antar sesama anak bangsa yang harmonis. Ini yang seharusnya menjadi dasar utama, kepentingan ekonomi itu seharusnya dinomorduakan saja.

Belajar dari Irak dan Suriah

Perselisihan antara para pengikut Sunni-Syiah itu sudah berlangsung berabad-abad, banyak korban berguguran. Berbagai dialog oleh para ulama sedunia dilakukan. Ingat, sedunia! Levelnya sudah bukan lagi Indonesia. Berbagai karya dalam berbagai bahasa pun telah ditulis. Para ulama Mesir yang tersohor wawasan keislamannya saja mengakui legalitas Mazhab Syiah sebagai bagian dari Islam. Di Mekah, para penganut Syiah bebas menunaikan ibadah haji. Lalu mengapa kita di sini sibuk mempersoalkan masalah ini, yang sudah jelas duduk perkaranya itu? Saya curiga, isu Sunni-Syiah hanyalah alat propaganda kelompok tertentu untuk membuat kegaduhan dan memecah persatuan di Indonesia.

Ingat apa yang terjadi di Suriah dan Irak. Seperti disampaikan oleh Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU, bersama dengan segudang intelektual lainnya, kehancuran Irak dan Suriah diawali dengan propaganda Mazhab Sunni-Syiah. Ada orang-orang yang dengan sengaja mengadu domba para penganut dua aliran Mazhab ini agar saling membenci satu sama lain.

Seorang ulama dari Suriah yang waktu itu sempat berkunjung ke Jakarta, namanya Syeikh Al-Buthi, tentu saja bukan Syeikh Al-Buthi yang pernah syahid terkena bom oleh kelompok teroris Takfiri saat berada di masjid. Beliau pernah memperingatkan bahwa sebuah negara yang penduduknya mayoritas Muslim akan hancur apabila muncul sekelompok orang mengibarkan bendera berlafadzkan tauhid sambil menyesatkan orang lain. Menurutnya, kerusakan di Suriah dimulai dari orang-orang seperti itu. Merekalah oknum yang berada di tengah-tengah Sunni dan Syiah, kemudian menghasut para pengikut kedua aliran mazhab ini. Di Indonesia, fenomena seperti ini sudah tidak asing lagi. Sebut saja HTI dan kelompok-kelompok ekstrem lainnya. Mereka memang mengibarkan bendera tauhid, tapi perilakunya sangat jauh dari semangat keislaman yang mengutamakan akhlak dan cinta kasih.

Ust Qurays Shihab sempat mengeluarkan sindiran,” Manusia itu bisa lebih jahat dari pada setan. Setan cukup hanya melakukan perbuatan buruk, tapi manusia melakukan perbuatan buruk sambil meneriakkan nama Allah SWT.”(Ha/LiputanIslam)

Baca selanjutnya:

Melawan Israel dengan Spirit Asyura

DISKUSI: