Melawan Israel dengan Spirit Asyura

0
220

LiputanIslam.com – Meskipun digelar dalam situasi yang berbeda akibat Covid-19, peringatan Asyura, yaitu peristiwa wafatnya Husein bin Ali ra, tetap dilakukan oleh orang Syiah. Berbagai laporan menyebutkan bahwa jumlah massa yang diperbolehkan menghadiri acara-acara peringatan dikurangi secara siginifikan. Akan tetapi, sebagian yang tidak bisa hadir tetap mengikuti peringatan di ruang-ruang virtual.

Asyura yang diperingati oleh orang Syiah ini memang peristiwa yang tragis dan kontroversial. Seluruh sejarawan sepakat bahwa Husein dibunuh secara tragis. Selama tiga hari, sebelum dibunuh, Husein tidak diberi akses air minum. Kemudian, ia dibunuh dengan cara disembelih. Setelah disembelih, kepalanya ditancapkan di atas tombak, lalu diarak dari Karbala, menuju Kufah (Irak); dari Kufah ke Syam (Suriah). Sementara itu, jenazah Husein dibiarkan selama tiga hari sebelum akhirnya ada yang berani menguburkannya.

Sebagaian besar kaum Muslimin sebenarnya terbiasa memperingati peristiwa kematian. Di dalam budaya Nusantara, kita menyebutnya haul. Akan tetapi, proses wafatnya Husein dengan cara yang tragis seperti itulah yang menyebabkan peringatan kematian Husein diselenggarakan secara berbeda. Husein mati di saat berjuang melawan apa yang diyakininya sebagai puncak kezaliman. Keyakinan Husein itu terbukti lewat proses kematiannya yang sangat brutal dan tragis itu.

Faktanya, Husein yang sudah tahu konsekwensi dari perjuangannya itu tetap melakukan kebangkitan heroik. Sisi inilah yang membuat perjuangan Husein menjadi sangat ikonik. Banyak pihak di luar kaum Syiah (Muslim Sunni maupun yang non-Muslim) yang menyampaikan apresiasi sangat tinggi terhadap peringatan Asyura. Mahatma Gandhi,  misalnya, menyatakan bahwa Husein adalah inspirasi bagi setiap orang yang sedang berjuang melawan penindasan. Selain Mahatma Gandhi, berderet-deret tokoh dunia (Che Guevara, Nelson Mandella, hingga Soekarno) yang juga memberikan aspresiasi sangat tinggi kepada Husein dan Asyura.

Di kalangan orang Syiah, Asyura dan Husein disebut sebagai landasan ideologis dan moral saat mereka melakukan perlawanan terhadap apa yang mereka yakini sebagai kekuatan korup. Hezbollah di Lebanon, misalnya. Spirit Asyura adalah landasan ideologis kelompok ini saat menghadapi kekuatan Zionis Israel. Saat menghadapi serdadu Zionis berperalatan lengkap, milisi Hezbollah selalu membayangkan diri mereka sedang berada di Karbala, dan di hari Asyura. Bisa dibayangkan, betapa kuat dan mematikannya milisi yang punya sikap mental seperti itu.

Heroisme dan altruismeadalah wajah utama dari Asyura. Akar dari peristiwa Asyura adalah perlawanan Husein melawan Yazid yang disimpulkan oleh para sejarawan Islam sebagai penguasa yang amoral dan bertangan besi. Untuk melawan penguasa yang diyakini oleh Al-Husein sedang menggiring agama Islam ke jurang kehancuran, ia mengorbankan dirinya dan keluarganya dengan cara yang sangat tragis.

Inilah wajah Asyura yang mestinya bisa dikapitalisasi oleh para pejuang Islam di seluruh dunia, Sunni ataupun Syiah. Nilai-nilai Asyura seperti heroisme, altruisme, kesetiaan, kebanggaan berada di jalan yang benar, dan berbagai nilai lainnya, saat ini terasa sangat urgen, terutama saat dunia Islam masih belum bisa mewujudkan cita-cita saudara mereka, Palestina, untuk lepas dari penjajahan Zionis Israel.

Sayangnya, di saat orang Syiah sedang menguatkan spirit perjuangan melawan kezaliman lewat peringatan Asyura ini, sebagian yang lainnya malah mengutuki acara peringatan dengan mengobral tuduhan dan fitnah keji. Bahkan, dihubungkan dengan perjuangan Palestina, saat ini kita menyaksikan bagaimana rezim-rezim Arab yang kaya raya itu malah melakukan pengkhianatan. Salah satunya, yaitu Uni Emirat Arab, malah melakukan normalisasi hubungan dengan penjajah Israel. Jika dilihat jejak-jejak politiknya, rezim-rezim itu pula yang mensponsori aktivitas kelompok-kelompok yang mempersekusi kegiatan peringatan Asyura/ (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: