After The Last Sky: Palestinian Lives (Buku Karya Edward Said)

0
4755

LiputanIslam.com –“Bagaimana seorang ayah Palestina dapat mengatakan kepada putra-putri mereka bahwa Lebanon, Mesir, Suriah, Jordan atau New York adalah tempat tinggal mereka, tetapi semua itu bukan tanah air mereka? Bagaimana seorang ibu Palestina dapat menceritakan kepada anak-anaknya tentang kenangan indahnya di Palestina, ketika kejadian, tempat, bahkan nama-nama yang menjadi kenangannya itu sudah tidak ada lagi? Semua kenangan yang telah hilang itu kini telah tergantikan oleh realitas. Rakyat yang tidak punya pelindung itu kini tenggelam dalam lautan budaya global.”

Kalimat-kalimat sendu di atas adalah petikan dari buku After the Last Sky: Palestinian Lives (Setelah Langit Terakhir, Kehidupan Bangsa Palestina) karya orientalis terkenal Edward Said. Ia lahir pada tahun 1935 di Palestina, Quds barat, dan berangkat ke AS pada tahun 1948, bersamaan dengan dimulainya pendudukan Palestina. Di AS, Profesor Said mendalami bidang kesusasteraan, falsafah, dan musik. Said juga dikenal menguasai beberapa bahasa dunia dan banyak sekali menulis buku mengenai Palestina. Melalui tulsan-tulisannya, Edward Said berjuang untuk menyuarakan kepedihan dan penderitaan bangsa Palestina yang tanah airnya telah direbut penjajah dan dijadikan negara baru dengan nama Israel.

Dalam bukunya ini, Edward Said  menampilkan aspek lain dari bangsa Palestina yang agak berbeda dari buku-buku lain yang telah ditulis mengenai masalah Palestina. Dalam buku ini, terpisah dari masalah politik atau ekonomi, pembaca dibawa melihat kehidupan sosial dan budaya rakyat Palestina. Hasilnya, pembaca tidak saja dapat menambah pengetahuan mereka tentang Palestina, melainkan juga mendapatkan cara pandang baru dalam menelaah masalah Palestina. Edward Said dalam penulisan buku ini memandang masalah-masalah budaya sebagai fenomena yang bisa berubah dan berkembang dalam konteksnya sendiri. Edward Said mengenal dengan baik berbagai problema sosial dan asimilasi rakyat Palestina lewat pengalaman pribadinya sendiri. Dalam buku ini, Edward Said menampilkan dirinya sendiri sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat dan bergabung bersama pembaca serta berdialog dengan mereka. Hasilnya, buku karya Edward Said ini menjadi hidup dan menyenangkan untuk dibaca.

Dalam salah satu bagian bukunya, Said menampilkan masalah utama rakyat Palestina yang hidup sebagai pengungsi, yaitu hilangnya identitas mereka sebagai bangsa Palestina. Edward Said mengungkapkan dalam bukunya itu, “Bagi kami, perasaan memiliki masa lalu itu sudah tak ada lagi. Masalah kami saat ini adalah bahwa kami terpaksa memusatkan perhatian kepada kehidupan hari ini. Setiap kali kami memikirkan apa yang telah berlalu, kami akan terheran-heran melihat betapa rumitnya masa lalu kami. Hati saya ingin sekali menemukan sesuatu petunjuk yang dapat memperlihatkan adanya perbedaan. Namun, saya pikir, dalam kondisi kehidupan kami saat ini, kami bangsa Palestina masih banyak memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Anak-anak kami harus dididik dan rumah-rumah kami yang hancur harus dibangun agar kami dapat hidup di dalamnya. Sebagian besar orang-orang Palestina berkata bahwa kami akan tetap ada meskipun kekutan-kekuatan musuh berusaha mengusir kami keluar dari tanah air kami dan di sinilah kami melalui kehidupan kami. Kata-kata mereka itu benar adanya.”

Di bagian awal buku, Edward Said mengemukakan peran berbagai negara, khususnya negara-negara Arab, dalam menangani masalah Palestina dan menyampaikan kritikan keras atas ketidakmampuan dan kelemahan negara-negara Arab dalam menyelesaikan masalah itu. Said memulai dengan kalimat, “Di manapun kami berada, kami tidaklah berada di Palestina, tanah air kami.”  Ia kemudian menyinggung sejarah lampau bangsa Palestina, “Palestina memainkan peran sentral dalam budaya Islam, Kristen dan Yahudi, karena itu Palestina tidak mungkin dilupakan dan tidak mungkin kita menutup mata terhadap sejarah ini.”

Kemudian Edward Said menuliskan cara orang-orang Palestina dalam berjuang demi kehidupan keseharian mereka. Menurut Said, tidak ada seorangpun yang menginginkan bangsa Palestina menjalani hidup secara normal. Karena itu, di dalam wilayah pendudukan, dilarang untuk menceritakan sejarah Palestina dan tidak dilakukan pendataan apapun mengenai rakyat Palestina. Hal ini membuat kami sadar bahwa tidak ada jalan lain bagi kami selain dari bersatu.”

Edward Said juga menyentuh soal keterikatan rakyat Palestina dengan tradisi dan adat leluhur mereka di mana saja mereka berada dan hal inilah yang menjadi penghalang mereka untuk melupakan masa lalu. Said menulis,”Hal ini dapat dilihat pada perhiasan dalam rumah berbagai lapisan rakyat Palestina. Mengundang tamu makan, menyambut tamu, dan beramah-tamah senantiasa merupakan watak bangsa Palestina. Di mana saja orang Palestina itu berada, mereka memperlihatkan identitas mereka. Piring-piring yang dihiasi dengan  kerang, mutiara, dan jarum-jarum kecil, semuanya menunjukkan bahwa kalian sedang berada di rumah seorang Palestina. Semua ini menunjukkan bahwa kami sedang merekontruksi kehidupan lampau yang pernah kami lalui di bumi Palestina.”

Bangsa Palestina adalah orang-orang yang tengah lewat dan ini dapat dilihat pada sebagian besar foto-foto yang tertera dalam buku After the Last Sky. Foto-foto yang dimuat dalam buku ini merupakan hasil karya Jean Mohr, seorang fotografer terkenal asal Swis. Foto-foto tersebut dengan indah merekam kehidupan rakyat Palestina dan merupakan bagian dari usaha Edward Said untuk mengenalkan rakyat Palestina kepada dunia. Melalui foto-foto itu, pembaca dibawa ke alam pengungsian rakyat Palestina dan rumah-rumah mereka.

Di antara foto-foto karya Mohr yang paling menarik adalah foto beberapa perempuan dan anak-anak Palestina yang sedang berada di kamp pengungsi dan diberi catatan sebagai berikut. ‘’Ayah dan ibuku meninggalkan tempat kelahiran mereka pada tahun 1932. Kisah sedih dan memilukan ibuku adalah sebagai berikut: setelah dia menikah dengan ayahku di kantor resmi pemerintah, seorang petugas Inggris merobek paspor ibuku dan berkata, ‘Setelah ini engkau melakukan perjalanan dengan menggunakan paspor suamimu.’ Dalam menjawab protes dari ibuku, sang petugas Inggris berkata, ‘Ini adalah dalam rangka mencabut identitasmu, supaya tempatmu dapat digantikan oleh seorang imigran Yahudi dari Eropa.’” Kisah ini memperlihatkan pelanggaran dan perampasan hak terhadap kaum perempuan Palestina yang tengah dijajah. Demi menambah kuota imigran Yahudi, diperlukan pengurangan jumlah penduduk pribumi dan langkah itu dimulai dengan merampas identitas kaum perempuan.

Buku Edward Said ini diakhiri dengan kalimat berikut, “Sebagaimana Anda melihat kami, orang-orang Palestina, lewat foto-foto dalam buku ini, kami juga menyaksikan Anda. Kami mengamati perilaku Anda dengan teliti. Kami menguji dan mengadili Anda. Kami lebih dari sekedar sesuatu. Kami bukanlah objek yang pasif. Jika kalian tidak menemukan Palestina, itu bukanlah kesalahan kami dan kami tidak akan berdiam diri.” (os/irib)

DISKUSI:
SHARE THIS: