[Liputan] STFI Sadra Menyambut Peluang dan Tantangan Islam di Era Industri 4.0

0
1978

Jakarta, LiputanIslam.com –Salah satu sisi negatif dari kemunculan Islam ekstrem (Islam radikal) adalah ajaran mereka yang mendikotomikan Islam dengan filsafat, antara wahyu dan akal. Dikatakan bahwa fiulsafat dan agama adalah pilihan yang dikotomis. Memilih salah satunya berarti menolak yang lain. Karena itulah, kelompok ekstrem itu sangat membenci filsafat dan logika. Padahal, berbagai kajian sejarah dan peradaban menunjukkan bahwa kecemerlangan era keemasan Islam seiring sejalan dengan perkembangan filsafat Islam, dan salah satu faktor keterpurukan ummat Islam adalah meninggalkan ilmu pengetahuan, yang pilarnya adalah filsafat dan logika.

Belajar dari kesadaran sejarah itu, sejumlah pihak di Indonesia berupaya menghidupkan kembali filsafat Islam demi menyongsong era baru revivalisasi peradaban Islam demi kemajuan ummat manusia di seluruh dunia. Upaya untuk membangkitkan Islam lewat filsafat yang terintegrasi dengan kitab suci Al-Quran itu di antaranya dilakukan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra yang berlokasi di kawasan Lebak Bulus, Jakarta.

Dalam prosesi Wisuda ke-3 Program S-1 yang dilaksanakan tanggal 14 Maret 2020, STFI Sadra mengangkat tema “Tantangan Islam di Era Dunia Baru 4.0”. Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustafa (yayasan yang menaungi STFI Sadra) Prof. Dr. Hossein Mottaghi dalam sambutannya menyatakan bahwa akhlak dan spiritualitas merupakan dua unsur utama dan tak-tergantikan dalam dunia modern dan masa depan. Tanpa dua unsur ini, masyarakat dunia tidak akan meraih kesempurnaan. Mottaghi menyebut para wisudawan adalah anak-anak muda, di mana para pemuda selalu menjadi elemen penentu yang melandasi kemajuan negara.

Wakorpertais Prof. Dr. Tibb Raya, MA dalam sambutannya membawakan riwayat dari Sayidina Ali karamullahu wajhah yang menyatakan bahwa seorang awam yang belajar ilmu kepada seorang alim, pada dasarnya ia adalah budak dari orang alim tersebut. Selain itu, ia juga berpesan bahwa widudawan mesti pandai membaca zaman dan pengetahuan di setiap masa. Dengan demikian, kita bisa berpikir untuk masa depan.

Orasi Ilmiah: Peluang dan Tantangan di Era Industri 4.0

Dalam prosesi wisuda itu, orasi ilmiah dibawakan oleh Dr. Suwendi, M.Ag., Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam RI dengan tema: Tantangan dan Strategi PTKI Dalam Menghadapi Era Industri 4.0. Ia menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Konsep penerapannya berpusat pada konsep otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya.

Indonesia menurutnya memiliki bonus demografi, karena jumlah penduduk usia produktifnya lebih banyak dari penduduk usia non produktifnya. Akan tetapi tantangan era ini sedemikian beratnya, karena beberapa pijakan; hidup dalam lautan data/informasi, dihadapkan pada pilihan-pilihasn rumit  di era pascakebenaran (post-truth); banyak dibantu oleh teknologi, sekaligus di-degradasi nilai-rasa sosial kemanusiaannya; buramnya sumber kebenaran, hilangnya keahlian/profesionalisme, semua merasa bisa  menjadi narasumber; semakin positivistik, materialistik, ada penurunan values dan keimanan, dan, terakhir, menempuh cara instan dan berpola pikir hitam-putih. Hal ini adalah tantangan besar yang membahayakan perkembangan bangsa pada era berikutnya. Bahkan data tentang gen milenial dan ekstrimisme sedemikian meningkat tinggi. Untuk itu, beliau dengan mengutip Abu Dubai Declaration (Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan) bahwa “Musuh bersama kita saat ini sesungguhnya adalah ekstremisme akut (fanatic extremism), hasrat saling memusnahkan (destruction), perang (war), intoleransi (intolerance), serta rasa benci (hateful attitudes) di antara sesama umat manusia, yang semuanya mengatasnamakan agama”.

Sadra Awwards

Acara lainnya adalah penganugerahan Sadra Awards kepada Prof. Dr. Mulyadi Kartanagara. Sadra Award diberikan kepada insan akademisi, cendikiawan, atau tokoh Indonesia yang dinilai memiliki kiprah dalam mengembangkan pemikiran keislaman di Nusantara dan dunia. Prof. Mulyadi dikenal sebagai tokoh pemikir dan filosof di tanah air. Prof Mulyadi telah menghasilkan lebih dari 60 buku dan ratusan jurnal ilmiah.

Meluluskan 60 Wisudawan

Pada acara puncak, Ketua STFI Sadra Dr. Kholid Al-Walid membacakan SK Lulusan STFI Sadra Tahun 2019-2020, yang terdiri dari 60 wisudawan dari dua program studi. Lulusan Prodi Akidah dan Filsafat Islam berjumlah 25 orang, dan lulusan Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir berjumlah 35 orang. Kemudian dilangsungkan prosesi wisuda dan diumumkan juga beberapa mahasiswa berprestasi yang terdiri dari 6 kategori: kategori wisudawan  dengan IPK terbaik, kategori wisudawan berprestasi seni dan kebudayaan, wisudawan berprestasi bahasa Inggris, wisudawan berprestasi bahasa Arab, wisudawan berprestasi organisasi dan kemahasiswaan, wisudawan berprestasi kaligrafi, dan wisudawan berprestasi hafalan 30 juz Al-Qur’an. (os/dn/STFI Sadra)

DISKUSI:
SHARE THIS: