Hitung Mundur Runtuhnya Kejayaan AS

0
548

LiputanIslam.com –Kejayaan dan keruntuhan pada dasarnya adalah sunnatullah yang dipergilirkan di antara bangsa-bangsa. Tidak ada bangsa yang dipastikan akan berjaya terus, dan juga tak ada bangsa yang dipastikan terpuruk selamanya. Bangsa manapun yang mampu menyiapkan berbagai prasyarat kejayaan, pastilah berjaya; dan bangsa manapun yang meninggalkan prasyarat tersebut, ia akan kehilangan kesempatan meraih kejayaan. Sejarah juga mencatat, betapa banyak peradaban yang pernah berjaya, tapi akhirnya harus kehilangan kejayaannya gara-gara berbagai sikap korup yang mereka tunjukkan, yang menggerogoti fondasi kejayaan mereka itu sendiri.

AS adalah negara yang muncul sebagai kekuatan super power duni pasca Perang Dunia II. Negara-negara yang tergabung ke dalam Pasukan Sekutu –yang memenangi Perang Dunia II– terbagi ke dalam dua kubu: Blok Barat dengan ideologi liberalisme dan kapitalismenya, dan Blok Timur dengan ideologi komunismenya. Blok Barat dipimpin AS dan Blok Timur dipimpin Uni Sovyet. Ketika Uni Sovyet bubar Desembar 1991, AS menjadi kekuatan tunggal dan unilateral dunia, dan diperkirakan akan merajai dunia untuk jangka waktu yang sangat lama. Tak ada kekuatan yang diperkirakan akan memberikan tantangan kepada AS dari segala segi: ekonomi, militer, politik, budaya, dan sains.

Semakin ke sini, apa yang menjadi prediksi tersebut sepertinya semakin dipertanyakan kebenarannya. Di sejumlah bidang tersebut di atas, AS semakin tidak lagi menjadi adidaya yang tak tertandingi. Banyak kekuatan dunia muncul memberikan tantangan berat buat AS. Negeri Paman Sam ini tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan yang paling diperhitungkan ketika membicarakan konstelasi ekonomi, politik, dan militer.

Inilah yang menjadi dasar penilaian Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami baru-baru ini. Ia menyebut AS sekarang bukan lagi kekuatan “berbahaya” dan bahkan sudah mulai sekarat. Sebagai seorang petinggi militer, tentu yang dimaksud oleh Salami dengan “mulai sekarat”-nya AS itu adalah kemegahan dan kejayaan AS dari sisi militer. Salami menyampaian pernyataannya tersebut setelah mencermati berbagai perkembangan militer AS di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir ini. AS gagal menjalankan operasi militernya di Suriah. Di Irak, pangkalan-pangkalan militer AS juga secara bertahap sedang ditarik.

Fenomena terbaru yang paling hangat adalah penarikan militer AS dari Afghanistan, setelah bercokol dua puluh tahun tanpa ada hasil yang berarti. Saat secara resmi memulai penarikan pasukan militernya, Presiden Joe Biden menyampaikan catatan yang menunjukkan sikap lemah dari militer negaranya menghadapi situasi di Afghanistan. Ia ber-apology bahwa selama ini, memang tidak ada satupun kekuatan dunia yang mampu menjinakkan Afghanistan. Ia menyebut bahwa Afghanistan adalah kuburan (graveyard) bagi kekuatan asing manapun. Jadi, di sini, Biden menyalahkan Afghanistan sebagai kawasan yang ia sebut sangat bandel. Padahal, sejatinya, kegagalan militer AS di Afghanistan itu herus dikembalikan kepada perilaku AS sendiri yang memperlakukan rakyat Afghanistan dengan cara-cara yang jauh dari kemanusiaan yang adil dan beradab.

Melemahnya kekuatan AS juga bisa dilihat dari semakin lemahnya kekuatan-kekuatan proxy AS, yang selama ini menjadi sekutu dekat negara itu. Arab Saudi menjadi salah satu indikatornya yang sangat jelas. Invasi yang digelar untuk melumpuhkan kekuatan Houthi yang menguasai Yaman hingga kini menjadi sebuah perang yang sangat melelahkan, menguras banyak biaya, tanpa adanya perkembangan yang berarti. Malah, dalam berbagai front pertempuran, tentara koalisi pimpinan Arab Saudi yang bersenjatakan artileri bantuan AS ternyata kalah saat berhadapan dengan milisi Ansharullah dengan senjata seadanya.

Mungkinkah semua ini menjadi tanda kehancuran AS? Apakah saat ini sedang terjadi hitung mundur menuju titik runtuhnya kejayaan AS? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: