Yaman: 3 Periode Gencatan Senjata Bukti Koalisi Saudi Tak Serius Hentikan Perang

0
103

Sanaa,LiputanIslam.com– Wakil PM Yaman, Jalal al-Ruwaishan menyatakan, jika Koalisi Saudi tidak menunjukkan itikad baik untuk menghentikan agresi, mereka akan menyaksikan hal-hal yang belum pernah terjadi di semua tahap perang ini.

Menurut laporan al-Masirah, al-Ruwaishan menegaskan kesiapan Tentara Yaman untuk segala skenario. “Pasukan kita mampu menyerang target-target yang tidak diduga-duga oleh Koalisi Saudi. Pasukan kita siap kapan pun dan hal ini tidak terbatas pada era terancamnya Yaman saja,” tuturnya.

“Negara-negara agresor bertanggung jawab sepenuhnya atas meningkatnya ketegangan di Kawasan yang disebabkan oleh mereka.”

Ia secara implisit menyinggung serangan Yaman ke fasilitas-fasilitas minyak Saudi dan berkata, ”Saudi tidak memiliki kondisi ideal, sementara Yaman dalam posisi geopolitiknya memiliki kemampuan untuk memengaruhi pasar energi. Yaman tidak akan pernah berada dalam posisi sebagai satu-satunya pihak pecundang (dalam perang ini).”

Al-Ruwaishan mengatakan, meski masih ada perbedaan pandangan dalam perundingan pembayaran gaji pegawai Yaman, namun sudah ada langkah sangat baik yang telah diambil terkait hal ini.

“Delegasi Oman berperan sebagai mediator antara Sanaa dan negara-negara agresor. Ada harapan bahwa hal ini akan terwujud. Namun tiga periode gencatan senjata yang diumumkan PBB menunjukkan bahwa negara-negara agresor tidak punya niat untuk menghilangkan derita rakyat kita,”kata al-Ruwaishan.

“Delegasi Oman membawa pesan-pesan dari negara-negara agresor terkait dengan pembayaran gaji pegawai Yaman, yang jumlahnya sekitar 1 juta 300 ribu orang. Namun dalam pandangan kami, negara-negara agresor semestinya memperkenankan agar gaji 30 juta warga Yaman dibayarkan.”

“Negara-negara agresor berusaha menjadikan isu pembayaran gaji pegawai sebagai salah satu poin yang dirundingkan, padahal ini adalah bagian dari hak bangsa kita.”

“Kami ingin gaji semua pekerja Yaman, baik sipil maupun militer, dibayarkan dengan status mereka sebagai pegawai,” tandas al-Ruwaishan.

DISKUSI: