[VIDEO] Palestina Peringati 20 Tahun Intifada Kedua

0
118

Ramallah, LiputanIslam.com—Warga Palestina memperingati 20 tahun Intifada Kedua lewat aksi demo di pusat kota Ramallah, Tepi Barat, Senin (28/9).

Warga berserta sejumlah anggota faksi politik Palestina berpartisipasi dalam aksi demo ini di jalanan Ramallah. Mereka membawa berbagai macam plakat dan poster yang menyerukan perlawanan Intifada hingga penjajahan dikalahkan.

Apa itu Pemberontakan Intifada Kedua?

Intifada Kedua dimulai setelah pemimpin oposisi Israel pada saat itu, Ariel Sharon, menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur dengan lebih dari 1.000 polisi dan tentara bersenjata berat pada 28 September 2000.

Tindakan tersebut memicu kemarahan besar dari warga Palestina yang baru saja memperingati pembantaian Sabra dan Shatila tahun 1982, di mana Sharon dituding bertanggung jawab karena gagal menghentikan tragedi itu.

Namun, sebelum tindakan kontroversial Sharon, kemarahan warga Palestina sudah berada di titik tertinggi akibar penolakan pemerintah Israel mematuhi Perjanjian Oslo dan mengakhiri penjajahan.

Warga Palestina pun melakukan pemberontakan di Yerusalem dan dengan cepat menyebar ke Tepi Barat dan kawasan pendudukan Yerusalem Timur. Mereka tidak menggunakan kekerasan di hari-hari pertama, kecuali hanya melempar batu ke para tentara.

Namun, aksi itu malah ditanggapi dengan kekerasan berlebihan dari tentara Israel yaitu dengan penembakan peluru karet dan peluru tajam. Tentara juga mengirim helikopter dan tank ke wilayah Palestina yang padat penduduk.

Setidaknya 4.973 warga Palestina terbunuh selama Intifada Kedua, termasuk 1.262 anak-anak, 274 wanita, dan 32 tenaga medis, menurut Pusat Hak Asasi Manusia Palestina.

Menurut data dari Defense for Children International, organisasi hak-hak anak berbasis di Swiss, lebih dari 10.000 anak terluka selama lima tahun Intifad.

Selain kematian dan luka-luka, tentara Israel menghancurkan lebih dari 5.000 rumah warga Palestina dan merusak 6.500 lainnya.

Anggira Komite PLO, Wasel Abu Yusuf, menilai bahwa kekerasan Israel itu memperlihatkan bahwa “Israel tidak tertarik untuk mengakhiri konflik dengan cepat,”

“Fakta bahwa Israel menembakkan lebih dari satu juta peluru, menyebabkan kerugian besar bagi nyawa Palestina, dan melangkahi tempat-tempat suci Muslim, semuanya menunjukkan bahwa Israel ingin memiliterisasi Intifada. Penggunaan kekuatan yang berlebihan yang dilakukan tentara Israel dimaksudkan untuk menyeret Palestina ke dalam konfrontasi militer,” tuturnya. (ra/wafa/aljazeera)

DISKUSI: