Tunjukkan Solidaritas kepada Lebanon, Macron Dituding Hipokrit

0
90

© Thibault Camus/Pool via REUTERS

Beirut, LiputanIslam.com—Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunggah tweet solidaritas kepada rakyat Lebanon pasca ledakan mengerikan di Beirut. Namun, sentimen itu malah memancing kontroversi.

Macron merupakan pemimpin dunia pertama yang mengunjungi Beirut pasca ledakan di pelabuhan kota itu pada Selasa (4/8) lalu. Ia sendiri menyebut kunjungannya pada Kamis (6/8) itu bertujuan “mengorganisasi kerja sama Eropa dan, lebih luas lagi, kerja sama internasional” untuk Lebanon.

“Lebanon tidak sendirian,” tulis Macron dalam cuitan berbahasa Arab dan Prancis.

Sejumlah netizen tidak menanggapi ungkapan solidaritas itu dengan baik. Pasalnya, Prancis merupakan sahabat lama Israel dan masih menjual senjata ke negara Zionis yang pernah memerangi Lebanon pada 2006 silam.

Beberapa menyebut pesan Macron “hipokrit” karena ia mendukung Israel “yang mengebom Lebanon beberapa kali.”

Lebih jauh lagi, kantor berita Lebanon, al-Mayadeen, melaporkan bahwa Macron bertemu dengan Presiden Michel Aoun. Dia sana aa mengancam para pemimpin Lebanon dengan sanksi jika mereka tidak tunduk pada reformasi dan “perubahan politik”.

Macron juga menyerukan diselenggarakannya “pakta politik baru” di antara faksi-faksi politik Lebanon, dan bahwa ia telah mengusulkan peta rencana kepada otoritas Lebanon untuk membuka miliaran dolar dana dari komunitas internasional. Ia memperingatkan bahwa dia akan kembali ke Lebanon pada September mendatang untuk menindaklanjuti.

“Saya akan kembali pada 1 September, dan jika mereka tidak dapat melakukannya, saya akan mengambil tanggung jawab politik saya” terhadap Lebanon, ancamnya.

Pernyataan ini juga memicu reaksi keras. Sejumlah pengguna Twitter menyebut apa yang dilakukan Macron sebagai gangguan dalam urusan internal Lebanon. Padahal, negara itu telah memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Prancis lebih dari tujuh dekade lalu. (ra/rt/presstv)

DISKUSI: