
Sanaa, LiputanIslam.com – Hizam al-Assad, pejabat senior di biro politik gerakan perlawanan Ansarullah di Yaman memperingatkan bahwa jika Israel melanggar perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza maka entitas Zionis ini akan mendapat tanggapan yang lebih “keras dan tegas” dari Angkatan Bersenjata Yaman.
“Jika Israel melanjutkan agresi dan blokadenya terhadap rakyat di Gaza, kami akan melanjutkan operasi militer kami dengan intensitas dan cakupan yang lebih besar untuk menekan dan memaksanya mengakhiri kejahatan dan agresinya,” kata al-Assad kepada Sputnik, Minggu (12/10), menyusul pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Dia juga menyebutkan bahwa Yaman akan menghentikan serangan terhadap target-target Israel jauh di dalam wilayah pendudukan serta kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah jika Israel mematuhi perjanjian gencatan senjata Gaza.
Namun, dia memperingatkan bahwa setiap kelanjutan blokade atau serangan terhadap Gaza akan memicu tanggapan yang baru dan lebih intensif.
Pada awal 10 Oktober, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa kabinet rezim tersebut telah menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.
Kesepakatan gencatan senjata, yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump, diperkirakan akan menghentikan permusuhan Israel karena para mediator mendesak kedua belah pihak untuk memenuhi fase pertama perjanjian tersebut.
Bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang lebih besar juga diperkirakan akan memasuki Jalur Gaza. Hingga Jumat, sekitar 600 truk bantuan dijadwalkan melintasi Gaza setiap hari. Jika selesai, tahap pertama dari rencana 20 poin Trump akan dilanjutkan dengan negosiasi detail tahap-tahap selanjutnya.
Setidaknya 67.806 warga Palestina gugur dan 170.066 lainnya terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023. (mm/presstv)