WSJ: Sepeninggal Emir, Kuwait Mendapat Tekanan agar Menormalisasi Hubungan dengan Israel

0
58

NewYork, LiputanIslam.com –  Surat kabar The Wall Street Journal (WSJ) mengutip pernyataan seorang anggota keluarga penguasa Kuwait bahwa dia memperkirakan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) akan berusaha menekan Kuwait agar menormalisasi hubungan dengan Israel.

“Kuwait selama beberapa dekade memetakan jalur netral dalam banyak konflik Timur Tengah yang sulit diselesaikan, tapi kematian Emirnya, seorang veteran diplomat, meninggalkan dilema apakah akan menormalisasi hubungan dengan Israel atau tidak tanpa pendirian negara untuk Palestina,” ungkap WSJ.

Belum lama ini terjadi pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan putra sulung Syeikh Sabah, mantan menteri pertahanan dan kandidat utama putra mahkota. Usai pertemuan itu Trump menyebut Kuwait akan menjadi negara berikutnya yang menjalin hubungan resmi dengan Israel.

Namun demikian, Perdana Menteri Kuwait Sabah Al-Khalid Al-Sabah setelah seminggu berada di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan kembali desakan Kuwait bahwa perdamaian dengan Palestina harus mendahului normalisasi rezim Zionis itu dengan dunia Arab.

“Kuwait menginginkan posisi netral. Itu tidak akan mendukung dan memuji apa yang terjadi, tetapi juga tidak akan mengkritiknya,” lanjutnya.

Menurut WSJ, kabel WikiLeaks tahun 2008 mengindikasikan bahwa Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Sabah mempercayakan putranya, yang saat itu menjabat kepala istana, untuk “memelihara hubungan kontak rahasia dengan seorang pejabat Israel berkewarganegaraan ganda yang berkedudukan di tempat lain di Teluk.” (mm/rta)

Baca juga:

Emir Kuwait Wafat, Nawaf Al-Ahmad al-Jabir al-Sabah Jadi Penggantinya

Kenang Emir Kuwait, Iran Sebut  Al-Sabah Sosok Moderat

DISKUSI: