Gaza, LiputanIslam.com – Sayap militer Hamas, Brigade Qassam, pada hari Kamis (8/5) mengumumkan pihaknya telah melakukan penyergapan yang menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel.
Serangan itu terjadi setelah alat peledak diledakkan terhadap pasukan patroli jalan kaki Israel sebelah timur Rafah, Jalur Gaza selatan, sebagaimana disebutkan Brigade Al-Qassam dalam video yang dipublikasikan di saluran Telegramnya.
Brigade Al-Qassam menyatakan operasi itu merupakan bagian dari serangkaian operasi “Gerbang Neraka,” yang dilancarkan sebagai tanggapan atas kejahatan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza yang telah berlangsung selama 19 bulan.
Video tersebut memperlihatkan beberapa peristiwa penyergapan yang berlangsung pada hari Rabu pekan ini, termasuk penembakan peluru ke sebuah rumah tempat pasukan Israel berlindung, yang disusul peledakan alat peledak setelah sekumpulan tentara Zionis terpancing ke lokasi serangan.
Brigade Al-Qassam menjelaskan bahwa para pejuangnya menyerang lantai dasar rumah tersebut dengan sejumlah peluru anti-personil dan anti-lapis baja, sebelum menyerang pasukan Israel dengan senjata yang sesuai.
القسام تبث عملية "أبواب الجحيم" ضد جنود الاحتلال شرق مدينة رفح.. pic.twitter.com/sqwSTBeZxx
— محمود العيلة (حساب جديد) (@mahmoudaleila) May 9, 2025
Brigade Al-Qassam menambahkan bahwa para pejuangnya mundur ke terowongan, “dan menjebak tentara pendudukan ke suatu titik tempat mereka memasang alat peledak. Begitu tentara tiba di tempat penyergapan, alat peledak itu diledakkan, hingga menewaskan dan melukai mereka.”
Brigade Al-Qassam juga menyebutkan bahwa para pejuangnya melihat helikopter Israel mendarat untuk mengevakuasi tentara yang terluka dari lokasi operasi.
Rami Abu Zubaydah, seorang analis militer Palestina, pada hari Jumat berkomentar,”Pergeseran strategi ini terlihat jelas dalam pola operasi perlawanan yang meningkat serta meliputi peledakan alat peledak yang ditanam terhadap kendaraan lapis baja Israel, menargetkan unit elit seperti Brigade Golani di dalam gedung, dan melakukan beberapa penyergapan.”
Dia menambahkan, “Operasi ini dilakukan jauh di dalam Rafah, bukan di pinggirannya, sehingga menepis narasi Israel tentang kendali atas Jalur Gaza selatan.”
Menurutnya, waktu dan tempat operasi juga sangat penting, karena Rafah, yang terletak di antara Jalur Gaza dan Mesir, semakin menjadi titik fokus agresi Israel dalam beberapa minggu terakhir.
Dia menekankan bahwa perlawanan tetap “sepenuhnya mampu bermanuver dan menyerang pasukan Israel” di mana saja di wilayah yang diblokade. (mm/raialyoum/presstv)