Teheran, LiputanIslam.com – Ali Akbar Velayati, penasihat Pemimpin Besar Iran untuk urusan internasional, menanggapi pelanggaran gencatan senjata berulang Israel di Jalur Gaza dan dukungan AS terhadap entitas Zionis tersebut.
Velayati mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak bertujuan menjaga perdamaian, melainkan untuk mengamankan kepentingan finansial di negara-negara Islam.
“Tujuan Trump dalam menyangkal pelanggaran gencatan senjata oleh entitas Zionis pembunuh anak-anak di Gaza bukanlah menjaga perdamaian, melainkan untuk menghilangkan hambatan dalam pelaksanaan kontrak keuangannya dengan negara-negara Islam dan untuk mengeksploitasi kekayaan mereka semaksimal mungkin,” ungkap Velayati, Jumat (31/10).
Mengacu pada pertemuan beberapa pemimpin Arab, Islam, dan Barat dengan Trump beberapa waktu lalu di Sharm el-Sheikh, Mesir, dia menambahkan, “Sandiwara Sharm el-Sheikh terjadi dalam kerangka yang sama.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan sebagai tanggapan atas pengumuman AS untuk melanjutkan uji coba senjata nuklir. Dia menyebutnya sebagai langkah yang regresif dan tidak bertanggung jawab.
Araghchi mengecam Washington karena mengubah nama “Departemen Pertahanan” menjadi “Departemen Perang” dan mengecam AS sebagai “pengganggu bersenjata nuklir.”
“Pengganggu yang sama telah menjelek-jelekkan program nuklir damai Iran dan mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap fasilitas nuklir kami yang dijaga ketat, semuanya merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” katanya.
Dia mengecam kritikan AS yang berkepanjangan terhadap program nuklir damai Iran, sementara di saat yang sama AS melanjutkan uji coba senjata atomnya sendiri.
“Jangan salah: AS adalah Risiko Proliferasi Paling Berbahaya di Dunia,” tegas Araghchi, dengan alasan bahwa dimulainya kembali uji coba nuklir merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.(mm/tasnim/presstv)