Riyadh, LiputanIslam.com – Tak lama setelah bertemu dengan Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa, Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya kini tengah menjajaki kemungkinan menormalisasi hubungan dengan Suriah.
Pertemuan luar biasa itu berlangsung singkat tapi dinilai penting. “Saya pikir ia punya potensi,” kata Trump setelah pertemuannya dengan Ahmed al-Sharaa di Riyadh, selama 37 menit, Rabu (14/5).
Al-Sharaa semula dikenal dengan panggilan Abu Muhammad al-Julani dan penyandang status pemimpin kelompok teroris Jabhat al-Nusra, sempalan al-Qaeda di Suriah. Belakangan, Jabhat al-Nusra berganti nama menjadi Hay’at Tahrir Sham (HTS), dan berhasil menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. AS pernah mengumumkan sayembara berhadiah sebesar $10 juta untuk kepala al-Julani, tapi kemudian dicabut pada bulan Desember 2024.
Rekaman video percakapan antara Trump dan al-Sharaa di istana kerajaan Saudi yang mewah memperlihatkan keduanya berbicara melalui penerjemah.
Putra Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman (MbS), duduk di sebelah mereka dengan wajah berseri-seri. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bergabung dengan mereka melalui telepon.
Trump mengakui bahwa MbS dan Erdogan adalah dua pemimpin yang telah meyakinkannya untuk mencabut sanksi AS terhadap Suriah.
“Pria tangguh, masa lalu yang sangat kuat,” puji Trump perihal Sharaa di depan wartawan dalam lawatan resmi pertamanya ke sejumlah negara Arab Teluk Persia selama empat hari.
HTS masih ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh PBB, AS, dan Inggris. Sejak mengambil alih kekuasaan pada bulan Desember, Sharaa telah mengenakan setelan jas ala Barat sebagai bagian dari lagak dan upaya menampilkan dirinya sebagai presiden bagi semua warga Suriah.
Belakangan, al-Sharaa menyatakan keterbukaannya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dan bergabung dengan Perjanjian Abraham “dalam kondisi yang tepat”. Padahal, ketika masih berstatus sebagai pemimpin HTS, dia pernah bersumbar; “Dengan semangat (juang) ini, dengan izin Allah, kita akan mencapai bukan hanya Damaskus, melainkan Al-Quds juga menanti kita.” (mm/aljazeera/bbc)