Teheran, LiputanIslam.com – Presiden AS Donald Trump, bersama beberapa pemimpin Timur Tengah dan sekitarnya, menandatangani dokumen tentang kesepakatan gencatan senjata Gaza dalam pertemuan puncak di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin (13/10).
Trump dalam kata sambutannya pada pertemuan itu memuji pembebasan tawanan Israel, sementara Hamas mengutuk “bentuk-bentuk sadisme dan fasisme paling kejam” yang dialami oleh orang-orang Palestina yang baru dibebaskan dari penjara-penjara Israel.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menandatangani dokumen tersebut .
“Butuh 3.000 tahun untuk mencapai titik ini. Percayakah Anda? Dan ini akan bertahan. Ini akan bertahan,” kata Trump di tengah penandatanganan dokumen.
“Ini adalah hari yang telah dinantikan, diperjuangkan, diharapkan, dan didoakan oleh orang-orang di seluruh kawasan dan dunia. Tak seorang pun mengira ini bisa terjadi,” lanjutnya, sembari menyebut perjanjian gencatan senjata Gaza sebagai “bersejarah.”
Trump melanjutkan pidatonya dengan mengatakan “Setelah bertahun-tahun penderitaan dan pertumpahan darah, perang di Gaza telah berakhir. Bantuan kemanusiaan kini mengalir deras, termasuk ratusan truk berisi makanan, peralatan medis, dan pasokan lainnya, sebagian besar dibayar oleh orang-orang di ruangan ini.”
Trump juga menyampaikan “rasa terima kasihnya yang luar biasa kepada negara-negara Arab dan Muslim yang telah membantu mewujudkan terobosan luar biasa ini.”
Presiden Mesir berterima kasih kepada Trump, serta para pemimpin Qatar dan Turki. Dia juga menegaskan kembali dukungannya terhadap rencana Gaza dengan harapan dapat menciptakan cakrawala politik bagi implementasi apa yang disebut solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina.
Upacara penandatanganan dilakukan setelah Hamas memulangkan 20 tawanan Israel yang masih hidup di Gaza berdasarkan fase pertama kesepakatan yang ditengahi AS. Hamas juga menyerahkan empat peti mati berisi jenazah para tawanan. Israel juga membebaskan 250 tahanan Palestina dan lebih dari 1.700 tahanan dari Gaza, yang sebelumnya ditahan tanpa dakwaan.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Hamas mengatakan, “Pembebasan para tahanan merupakan pencapaian nasional dan tonggak gemilang dalam perjuangan kami.”
Hamas menambahkan, “Para tahanan kami yang dibebaskan mengungkapkan bentuk-bentuk penyiksaan psikologis dan fisik paling mengerikan yang telah mereka alami selama dua tahun dalam sebuah adegan yang merupakan perwujudan bentuk-bentuk sadisme dan fasisme paling kejam di era modern.”
Kelompok perlawanan Palestina mendesak organisasi-organisasi hak asasi manusia dan kemanusiaan untuk mengambil tindakan terkait “kejahatan sistematis Israel terhadap tahanan.”
Trump pada 8 Oktober mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui tahap pertama rencananya untuk gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Kesepakatan ini diumumkan menyusul perundingan tidak langsung selama empat hari antara kedua belah pihak di Sharm el-Sheikh, dengan delegasi dari Turki, Mesir, dan Qatar, di bawah pengawasan AS.
Tahap kedua perjanjian ini mencanangkan kerangka pemerintahan baru di Gaza, pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina dan pasukan dari negara-negara Arab dan Muslim, serta rekonstruksi yang didanai asing yang dipimpin oleh negara-negara Arab. (mm/alalam)