Gaza, LiputanIslam.com – Mayat lima bayi prematur Palestina ditemukan di Rumah Sakit al-Nasr ketika wartawan dan pekerja bantuan memilah sisa-sisa fasilitas kesehatan yang dibom selama gencatan senjata di Jalur Gaza.
Bayi-bayi itu ditemukan membusuk, dan mereka tidak termasuk di antara bayi-bayi yang dievakuasi dari rumah sakit anak-anak setelah pasukan Israel memerintahkan pasien dan staf untuk pergi pada 10 November.
Rekaman video yang beredar sejak Rabu (29/11) menunjukkan bayi-bayi itu masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Direktur rumah sakit Mustafa al-Kahlot mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Euro-Med Human Rights Monitor bahwa dia mengirimkan permohonan kepada kelompok bantuan, termasuk Komite Palang Merah Internasional (ICRC), tentang lima anak tersebut sebelum kematian mereka tetapi tidak mendapat tanggapan.
Kelompok HAM tersebut menyerukan kepada tentara Israel untuk “bertanggung jawab” atas kematian bayi-bayi itu dan mengkritik ICRC karena gagal memberikan bantuan.
Lebih dari 15.000 warga Palestina, yang sekira setengahnya adalah perempuan dan anak-anak, terbunuh oleh operasi militer Israel di Gaza, yang dilancarkan setelah Hamas membunuh sekitar 1.200 tentara dan warga Zionis Israel dalam serangan mendadak pada tanggal 7 Oktober.
Setidaknya 22 rumah sakit di Gaza, termasuk beberapa di wilayah selatan, telah diperintahkan oleh tentara Israel untuk dikosongkan atau dijadikan sasaran sejak 7 Oktober.
Banyak dokter menolak mematuhi perintah ini dengan alasan kurangnya langkah-langkah keamanan bagi pasien dan jaminan kepulangan.
Ketika tentara Israel memperluas serangan daratnya di Gaza, tank dan pasukan infanteri mengepung beberapa rumah sakit di Kota Gaza dan Gaza utara.
Pasien dan ribuan orang yang berlindung di rumah sakit tersebut akhirnya dipaksa keluar di bawah todongan senjata, antara lain di Rumah Sakit al-Shifa, al-Rantisi dan Rumah Sakit Indonesia.
Menurut saksi mata, selama pengepungan terhadap rumah sakit dan pengusiran paksa berikutnya, tidak ada bantuan atau tindakan keselamatan yang diberikan kepada pasien atau staf medis.
Mereka yang terjebak di rumah sakit, tanpa makanan, air atau listrik, termasuk bayi prematur di inkubator, pasien ICU, orang yang terluka akibat serangan udara dan pasien lanjut usia yang menjalani perawatan dialisis.
Dalam kondisi ini, setidaknya 50 pasien meninggal selama pengepungan di Rumah Sakit al-Shifa saja.
Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia Margaret Harris pada pengarahan PBB di Jenewa pada hari Selasa lalu mengatakan bahwa runtuhnya Rumah Sakit al-Shifa, fasilitas medis terbesar di Gaza, merupakan “tragedi”, dan bahwa beberapa staf medisnya ditahan oleh pasukan Israel selama operasi evakuasi WHO. (mm/mee)
Baca juga: