Gaza, LiputanIslam.com – Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyatakan pihaknya tidak akan meletakkan senjata, dan mengecam statemen Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa perang akan dikobarkan lagi setelah perjanjian gencatan senjata sementara di Gaza.
Hamas dalam sebuah pernyataannya pada hari Rabu (21/5) menyebut statemen Netanyahu itu menunjukkan niatnya menggagalkan proses negosiasi dan menghancurkan peluang pembebasan tawanan.
Netanyahu menegaskan komitmennya untuk menduduki kembali Jalur Gaza dan mengusir warga Palestina dari sana, serta menetapkan tiga syarat untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dan memasuki bulan ke-20.
Dalam konferensi pers saat menjelaskan syarat-syaratnya untuk mengakhiri perang, Netanyahu mengatakan, “Saya siap mengakhiri pertempuran dengan syarat-syarat yang jelas: pengembalian semua tentara yang diculik, pengusiran pimpinan Hamas dari Gaza, dan pelucutan senjata Hamas.”
Dia juga menyebutkan bahwa setelah diakhirinya perang dengan ketentuan ini, “kami akan mulai melaksanakan rencana (Presiden AS Donald) Trump” terkait pengusiran penduduk Gaza.
Hamas menegaskan bahwa pernyataan Netanyahu, buronan Mahkamah Kriminal Internasional, tersebut “menegaskan kembali kepada seluruh dunia bahwa kita sedang menghadapi seorang penjahat yang terobsesi dengan pembunuhan dan genosida, yang mendorong seluruh wilayah ke jurang kehancuran demi melayani kepentingan politiknya.”
Hamas menjelaskan, “Pernyataan Netanyahu bahwa perjanjian gencatan senjata sementara akan disusul dengan pengobaran kembali perang, yang mengarah pada penerapan apa yang disebutnya rencana Trump untuk pengusiran pendudukan, merupakan desakan untuk menggagalkan proses negosiasi dan menghancurkan peluang pembebasan tawanan (Israel) di Gaza.”
Hamas mendesak masyarakat internasional mengambil tindakan segera “untuk menghentikan pembantaian brutal terhadap warga sipil di Gaza dan meminta pertanggungjawaban Netanyahu sebagai penjahat perang yang bersikeras melanjutkan genosida, pelaparan, dan pengusiran yang jelas-jelas menentang hukum internasional.”
Hamas telah berulang kali menyatakan kesediaannya untuk membebaskan tawanan Israel “dalam satu gelombang” dengan imbalan diakhirinya perang pemusnahan, penarikan pasukan Israel dari Gaza, dan pembebasan tawanan Palestina.
Namun Netanyahu menghindari kesepakatan itu dengan mengusulkan persyaratan baru, termasuk pelucutan senjata faksi-faksi Palestina, dan bersikeras menduduki kembali Jalur Gaza.
Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan penuh AS, Israel melakukan genosida di Gaza, yang menjatuhkan korban jiwa dan luka lebih dari 175.000 warga Palestina, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan wanita, serta menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang dan ratusan ribu orang mengungsi.
Dalam peristiwa terbaru, Israel membunuh 63 warga Palestina, termasuk anak-anak dan wanita, pada hari Rabu, dalam suatu eskalasi yang termasuk menyasar Rumah Sakit Al-Awda.
Sumber medis dan pertahanan sipil mengatakan kepada bahwa serangan Israel menargetkan rumah-rumah di Jalur Gaza utara, tengah, dan selatan, sementara kru pertahanan sipil dan medis masih mencari orang hilang di bawah reruntuhan. (mm/raialyoum)