Damaskus, LiputanIslam.com – Koresponden saluran TV Al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon pada hari Minggu (1/12) melaporkan bahwa Tentara Arab Suriah (SAA) bergerak maju secara pesat dalam operasi ofensif terhadap kelompok-kelompok bersenjata, dan telah merebut kembali hampir seluruh desa di Rif Hama.
Dia menjelaskan bahwa tentara Suriah berusaha mengamankan jalur Athreya-Khanaser-Safira di pedesaan selatan Aleppo, dan bahwa kelompok bersenjata mencegah masuknya pasokan makanan atau keluarnya warga sipil dari daerah Safira.
Angkatan udara Suriah dan Rusia menggempur titik-titik keberadaan militan di pedesaan barat Aleppo dan jalur pasokan mereka, selain melakukan pemboman terkonsentrasi terhadap posisi militan di Idlib.
Sumber-sumber Al-Mayadeen menyatakan bahwa kelompok-kelompok bersenjata memasuki sejumlah lingkungan di kota Tal Rifaat, utara Aleppo, di tengah pertempuran dengan pasukan Kurdi Suriah (SDF).
SDF mengirim bala bantuan ke pedesaan timur laut Aleppo di Manbij dan daerah sekitarnya, untuk mengantisipasi potensi serangan kawanan bersenjata.
Sumber-sumber itu menyatakan bahwa pembangkit listrik Tal Tamr , yang berada di bawah kendali SDF di pedesaan Hasakah, tidak berfungsi setelah rusak akibat intensitas artileri Turki di daerah tersebut.
Pemerintah Bersumpah Bebaskan Semua Wilayah Suriah
Perdana Menteri Suriah, Muhammad al-Jalali, berjanji akan membebaskan seluruh wilayah Suriah, dan menekankan bahwa SAA kini mendukung seluruh kegiatan pemerintah dengan menghadapi agresi dan memulai fase baru.
Usai sesi luar biasa dewan menteri untuk membahas dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan terkait dengan gejolak situasi lapangan saat ini, Al-Jalali menekankan bahwa pemerintah bersama SAA bersama-sama mengatasi dampak yang terjadi akibat serangan teroris, termasuk terhadap warga sipil di kota Aleppo dan daerah pedesaannya.
Suriah Dukung Kelompok Bersenjata, Suriah Didukung Arab
Muhannad Haj Ali, mantan anggota parlemen Suriah, menyatakan ada dukungan signifikan Arab kepada Suriah untuk pertama kalinya sejak tahun 2011.
Dalam wawancara dengan Al-Mayadeen, Haj Ali mengatakan, “Tentara Suriah sedang melakukan serangan balik besar-besaran. Tentara sedang dalam proses rekonsolidasi dan perebutan kembali Aleppo, dan menggempur kelompok-kelompok bersenjata dengan rudal-rudal presisi di wilayah provinsi itu, bersamaan dengan pemboman jalur pasokan melalui udara.”
Dia menambahkan, “Rezim pendudukan Israel gagal di Lebanon, dan terpaksa menyetujui gencatan senjata. Karena itu, mereka ingin organisasi-organisasi bersenjata di Suriah berperan memisahkan Hizbullah secara geografis dari elemen-elemen lain Poros Resistensi.”
Dia menjelaskan bahwa oposisi politik nasional adalah kelompok yang sehat dan percaya pada tanah air serta tidak memiliki agenda eksternal, sedangkan oposisi di Idlib merupakan “tentara intelijen bayaran yang tidak mewakili basis kerakyatan.”
Dia memastikan Turki adalah pihak yang mendukung dan mempersenjatai kawanan bersenjata di Suriah utara, padahal mereka “diklasifikasikan oleh Dewan Keamanan (PBB) sebagai kelompok teroris.”
Dia menyoal bagaimana mungkin tindakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dapat dikatakan sebagai pembalasan atas penolakan Suriah terhadap upaya rekonsiliasi, sementara dia juga menyiapkan kelompok-kelompok bersenjata.
Menurutnya, Turki tidak pernah menentang Israel kecuali sebatas klaim di media, dan penggalangan kekuatan kelompok-kelompok bersenjata di Suriah utara tak mungkin dapat dilakukan tanpa peran Turki.
Sabtu lalu, Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan “tidak benar berita yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi teroris bahwa tentara Suriah mundur dari Hama.” Kementerian ini juga menyatakan, “Ada unit-unit militer yang ditempatkan di posisi mereka di pedesaan utara dan timur Provinsi Hama, dan sepenuhnya siap menghalau kemungkinan serangan teroris.”
Perkembangan tersebut terjadi setelah kelompok-kelompok bersenjata, yang dipimpin kelompok Hay’at Tahrir al-Sham dan terdiri atas ribuan teroris asing yang dilengkapi senjata berat dan sejumlah besar drone, melancarkan serangan besar-besaran dari berbagai arah di dua front Aleppo dan Idlib. (mm/almayadeen)