Beirut, LiputanIslam.com – Tentara Lebanon mengecam keras serangan pasukan pendudukan Israel yang hampir mengenai pasukan Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan, dan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya.”
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (16/11), militer Lebanon mengatakan bahwa serangan terhadap patroli UNIFIL adalah yang terbaru dari serangkaian “pelanggaran kedaulatan Lebanon”, dan bahwa tindakan Israel menyebabkan ketidakstabilan di Lebanon dan menghambat penyelesaian penempatan militer di selatan.
Tentara Lebanon menambahkan bahwa komando militer “bekerja sama dengan negara-negara sahabat untuk mengakhiri pelanggaran yang sedang berlangsung oleh musuh, Israel, dan ini mengharuskan adanya tindakan segera karena merupakan eskalasi berbahaya.”
Pasukan Israel “menembak pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dari tank Merkava dari dekat posisi yang telah didirikan Israel di wilayah Lebanon,” kata pasukan penjaga perdamaian dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
Tentara Israel mengakui bahwa tentaranya melepaskan tembakan, tetapi mengklaim bahwa “kondisi cuaca buruk” menyebabkan mereka mengira patroli PBB sebagai “tersangka.” UNIFIL menyatakan bahwa peluru senapan mesin berat mengenai personel mereka dari jarak sekitar 5 meter (5,5 yard). “Sekali lagi, kami menyerukan kepada [militer Israel] untuk menghentikan segala bentuk perilaku agresif dan serangan terhadap atau di dekat pasukan penjaga perdamaian,” ungkap UNIFIL.
UNIFIL mengatakan penembakan itu “merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701,” yang mengakhiri perang tahun 2006 antara Israel dan gerakan perlawanan Hizbullah.
Resolusi 1701 juga menjadi dasar kesepakatan gencatan senjata November lalu.
Kantor berita Lebanon, NNA, belakangan ini juga melaporkan bahwa Lebanon berencana mengajukan pengaduan kepada Dewan Keamanan PBB terkait dengan pembangunan tembok beton oleh Israel di sepanjang perbatasan selatannya yang melintasi “Garis Biru,” garis demarkasi yang memisahkan Lebanon dari wilayah-wilayah yang diduduki Israel.
Sementara itu, serangan pesawat nirawak Israel menggugurkan satu orang setelah menyerang kota al Mansouri di Lebanon selatan.
NNA mengonfirmasi bahwa “serangan pesawat nirawak musuh” di al Mansouri menggugurkan Muhammad Shweikh, kepala Sekolah Umum al Mansouri.
Pesawat nirawak tersebut menghantam mobil Shweikh di dekat lapangan sepak bola Stadion Imam Musa al Sadr, hingga memicu kebakaran.
Tentara Israel menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai hampir 17.000 orang dalam serangannya di Lebanon, yang dimulai pada Oktober 2023 dan berubah menjadi agresi skala penuh pada September 2024.
Israel dan Hizbullah mencapai kesepakatan gencatan senjata yang berlaku efektif pada 27 November 2024. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Israel diharuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon, tetapi dalam praktiknya Israel tetap menempatkan pasukan di lima lokasi sehingga jelas-jelas melanggar resolusi 1701 dan ketentuan perjanjian November 2024. (mm/presstv/alalam)