TelAviv, LiputanIslam.com – Tentara Zionis Israel menangis meninggalkan Poros Netzarim dan merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk lebih lebih dari setahun di Gaza ternyata “sia-sia”, menurut saluran 14 Israel.
Poros Netzarim (Persimpangan Syuhada) adalah zona militer yang sempat didirikan oleh tentara Israel untuk membelah Kota Gaza serta memisahkan wilayah utara Jalur Gaza dari wilayah tengah dan selatannya.
Tentara pendudukan hengkang dari Poros Netzarim pada hari Senin (27/1) setelah Hamas dan Israel mencapai kesepakatan yang menetapkan pembebasan 6 tawanan Israel, termasuk Arbel Yehud, sebagai imbalan atas dibiarkannya pengungsi Palestina kembali ke Jalur Gaza utara sejak Senin pagi.
Dengan penarikan pasukan pendudukan dari Netzarim, yang didirikan sejak operasi darat dimulai pada 27 Oktober 2023, puluhan ribu pengungsi mengalir melalui dua jalan utama, termasuk Jalan Rashid, yang dibanjiri konvoi panjang para pengungsi yang mengalir dengan berjalan kaki, sementara ribuan lainnya bergerak meninggalkan Jalur Gaza selatan dengan kendaraan mereka melalui Poros Netzarim.
Mengomentari hal ini, koresponden militer Channel 14 Israel, Hallel Rosen, mengatakan, “Saya dapat memberitahu Anda bahwa para pejuang (tentara Israel) menangis meninggalkan koridor Netzarim, dan merasa bahwa segala yang telah mereka lakukan selama lebih dari setahun di Jalur Gaza ternyata sia-sia.”
Dia menambahkan, “Ini menyebalkan. Dulu biaya yang harus dikeluarkan adalah pembebasan tahanan keamanan, tapi sekarang biayanya sudah menjadi biaya operasional, karena Jalur Gaza utara kini terekspos. Mereka (perlawanan) akan menempatkan alat peledak di bawah tanah untuk kita, dan akan menanam ranjau di tempat-tempat yang belum pernah kita kerjakan.” setelahnya”.
Rosen juga mengatakan, “Jika ada ribuan militan di daerah Beit Hanoun dan Jabalia, jumlahnya sekarang bisa meningkat menjadi lebih dari 10.000, dan jika kita kembali berperang, kita akan menunggu pertempuran yang keras dan intens tidak kurang dari apa yang telah kita lihat sebelumnya.”
Dia menjelaskan, “Benteng-benteng yang akan dibangun dan senjata-senjata yang akan diselundupkan akan membuat operasi militer di masa depan menjadi lebih berbahaya dan rumit. Ini merupakan pukulan telak bagi semua upaya yang telah dilakukan oleh pasukan kita di Jalur Gaza, dan sekarang, tampaknya semua itu terbuang sia-sia.”
Kembalinya para pengungsi Palestina ke Jalur Gaza utara terjadi setelah berbulan-bulan pemboman dan blokade Israel yang menyebabkan pengungsian paksa ratusan ribu warga Palestina, disertai kondisi kehidupan yang buruk karena kelaparan dan terhambatnya bantuan pangan, sehingga perjalanan pulang menjadi momen luar biasa yang diwarnai harapan sekaligus penderitaan.
Gencatan senjata antara kubu perlawanan Palestina dan rezim pendudukan Israel mulai berlaku pada tanggal 19 Januari. Tahap pertama akan berlangsung selama 42 hari, di mana negosiasi akan dimulai untuk memulai tahap kedua dan ketiga, dengan mediasi Doha, Kairo, dan Washington. (mm/raialyoum)