TelAviv, LiputanIslam.com – Tentara Israel yang bertempur di Jalur Gaza selatan mengakui Hamas tetap tangguh bertahan meskipun genosida masih terjadi dan negosiasi sedang berlangsung di Doha, ibu kota Qatar.
Dalam laporan yang disiarkan oleh Channel 12 Israel pada hari Jumat (11/7) dengan judul “Pertempuran tidak berhenti, dan Hamas tidak akan menyerah,” korespondennya, Sapir Lipkin, yang mendampingi pasukan Israel di pinggiran timur Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, menyebut fakta di lapangan masih jauh dari prospek gencatan senjata.
“Meskipun negosiasi Doha terus berlanjut, penembakan juga terus berlanjut di Gaza, dan musuh (Hamas) tidak lemah,” katanya.
Seperti diketahui, sejak 7 Oktober 2023, Israel mengobarkan perang genosida di Jalur Gaza menjatuhkan korban jiwa dan luka lebih dari 195.000 warga Palestina, yang sebagian besar anak-anak dan perempuan, serta menyebabkan lebih dari 10.000 orang hilang dan ratusan ribu orang mengungsi. Israel juga menggunakan aksi pelaparan dan vandalisme sebagai alat perang.
Dikutip oleh Channel 12 , seorang perwira muda berinisial A berpangkat letnan dan komandan kompi infanteri di Divisi ke-71, mengatakan, “Saya terkejut melihat intensitas pertempuran. Saya semula yakin akan melihat lebih banyak rumah yang hancur, tapi Gaza masih tangguh.”
Dia menambahkan, “Jika ada yang berpikir bahwa semua rumah telah runtuh dan IDF memiliki kendali penuh atas Gaza, kita belum mencapai tahap itu. Sampai gencatan senjata (potensial) diumumkan, kita akan terus bertempur dan menghancurkan hingga hari terakhir.”
Saluran Israel tersebut menekankan bahwa gambaran yang muncul di lapangan “mengkhawatirkan”.
Tentara itu menambahkan, “Ini menunjukkan kemampuan baru Hamas, yang meskipun mengalami pukulan, namun masih mampu memulihkan dan mengatur ulang barisannya. Musuh tidak remeh, mereka mempelajari kita setiap hari, memantau kita, dan memeriksa kita.”
Dia juga menuturkan, “Menurut intelijen kami, mereka memantau setiap gerakan kami dan memahami pola operasi tentara. Mereka sedang belajar bagaimana menyesuaikan taktik dan memaksimalkan kekuatan mereka.”
Meskipun perang telah berlalu 21 bulan, di mana Tel Aviv bersumbar dapat menumpas Hamas, gerakan perlawanan ini bersama dengan faksi-faksi pejuang Palestina lain masih aktif di sebagian besar garis depan Gaza. Hal ini memicu meningkatnya kritik terhadap pemerintah Israel dan perpecahan di dalam tubuh militer terkait pelaksanaan perang.
Pada hari Jumat, tentara Israel mengumumkan tewasnya seorang komandan kompi Brigade Golani di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza. Hal ini menambah jumlah korban tewas di pihak Israel sejak awal perang menjadi 890, termasuk 448 korban yang jatuh dalam operasi darat yang dimulai pada 27 Oktober 2023.
Letnan A yang menjelaskan, “Khan Yunis merupakan pusat saraf Hamas, dan anasirnya tahu persis apa yang mereka lindungi di sana: infrastruktur, senjata, dan bahkan mungkin para sandera (tawanan Israel di Gaza). Kami hanya memahami bahwa tempat-tempat yang paling dijaga ketat adalah yang paling penting bagi mereka. Khan Yunis bukan lagi sekadar target operasional bagi kami; tempat ini telah menjadi arena yang kompleks dan bertingkat di mana setiap jalan, setiap sekolah, dan bahkan lubang pembuangan limbah dapat menyembunyikan terowongan atau pusat perlawanan.”
Dia juga mengatakan “Saya melihat perlawanan di Khan Yunis lebih intensif daripada yang saya lihat di Rafah… Hamas sangat menyadari apa yang mereka lindungi dan tidak mudah menyerah. Sulit juga membedakan antara mereka yang menjadi anggota Hamas dan mereka yang bukan.” (mm/raialyoum)