
Teheran, LiputanIslam.com – Pemerintah Iran mengutuk ancaman rezim Israel terhadap pesawat penumpang Iran yang mengangkut warga negara Lebanon, dan menyebutnya pelanggaran terbuka terhadap prinsip dan aturan hukum internasional serta kedaulatan Lebanon.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ismaeil Baghaei, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (14/2), mengatakan bahwa ancaman rezim Israel terhadap pesawat penumpang tersebut telah “mengganggu penerbangan normal ke Bandara Beirut.”
Baghaei menyatakan demikian menyusul peristiwa pembatalan dua penerbangan sipil terjadwal dari Iran ke Lebanon.
Pembatalan itu diperintahkan oleh Menteri Transportasi Lebanon atas tekanan dari rezim Israel, yang mengklaim bahwa pesawat tersebut mentransfer dana untuk kelompok pejuang Hizbullah.
Juru bicara Iran menyerukan tindakan serius oleh badan-badan internasional terkait, khususnya Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), untuk “menghentikan tindakan berbahaya Israel terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan negara tersebut.”
Larangan pendaratan pesawat Iran di Beirut itu memicu aksi protes keras di sekitar Bandara Internasional Beirut.
Sejumlah besar massa Lebanon turun ke jalan di sekitar Bandara Internasional Beirut pada Kamis malam, memblokir pintu masuk bandara dan jalan internasional menuju bandara tersebut serta membakar ban bekas sambil meneriakkan yel-yel anti-AS dan anti-Israel.
Massa sempat terlibat bentrok dengan personel militer Lebanon yang berusaha membersihkan jalur.
Duta Besar Iran untuk Beirut Mojtaba Amani mengatakan pada hari Jumat bahwa Teheran tidak menerima tawaran pemerintah Lebanon untuk menyediakan penerbangan alternatif bagi pesawat Iran.
“Pemerintah Lebanon sedang mencari penerbangan alternatif bagi pesawat Iran. Kami secara umum menyambut baik pembukaan penerbangan maskapai Lebanon ke Iran, tapi tidak dengan cara yang membatalkan penerbangan Iran,” tambahnya.
Dia menekankan bahwa Iran pasti akan menyetujui rencana pemerintah Lebanon hanya jika Beirut “tidak menciptakan hambatan bagi maskapai penerbangan Iran.”
Dia juga menyebutkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung antara kedua negara untuk mencapai kesepakatan.
Menurutnya, pembatalan penerbangan tersebut menyebabkan penumpang Lebanon, terutama para peziarah, terlantar di bandara Teheran, dan warga Lebanon, yang seharusnya datang ke Iran untuk berziarah, gagal melakukan perjalanan.
Amani mencatat bahwa penerbangan Iran dibatalkan bersamaan dengan ancaman rezim Israel terhadap rakyat Lebanon, yang berusaha mempertahankan kemerdekaan mereka dan tidak menerima rekomendasi semacam itu dari negara mana pun, terutama rezim ilegal Zionis.
Hal ini “tidak dapat diterima” dan akan menyebabkan protes publik, tambahnya.
Duta Besar Iran berharap masalah tersebut segera tersolusi. (mm/presstv)