Teheran, LiputanIslam.com – Menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa rakyat AS lelah berperang demi “perang Israel yang tak berkesudahan”
“Bangunan dan mesin dapat dihancurkan, tapi tekad kita tidak akan pernah goyah. Melanjutkan kesalahan perhitungan ini tidak akan menyelesaikan apa pun, dan tidak ada solusi selain penyelesaian yang dinegosiasikan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, “Ketika saya menuju putaran negosiasi kelima dengan Tuan Witkoff, saya menulis: ‘Nol senjata nuklir = kita memiliki kesepakatan. Nol pengayaan = tidak ada kesepakatan.'”
Dia juga menegaskan, “Seandainya Presiden Trump melihat rekaman risalah negosiasi tersebut, dia pasti tahu betapa dekatnya kita dengan perayaan perjanjian nuklir yang baru dan bersejarah.”
Menteri Luar Negeri Iran menyatakan, “Trump harus ingat bahwa tidak ada informasi tentang senjata pemusnah massal di Irak, dan akibatnya adalah kehancuran besar-besaran, ribuan kematian warga Amerika, dan pemborosan uang pajak sebesar $7 triliun.”
Dia menambahkan, “Juga tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa Iran hampir mengembangkan senjata nuklir ‘dalam waktu satu bulan’ jika bukan karena provokasi Tel Aviv, yang gagal dalam operasinya dan sekarang menciptakan ancaman imajiner dari kekuatan pertahanan Iran, sementara rakyat Amerika lelah berperang demi perang Israel yang tak berkesudahan.”
Araghchi menekankan bahwa Iran adalah negara besar, dan bangsa Iran adalah bangsa besar pewaris peradaban besar dan kuno.
Iran dan AS pernah mengadakan lima putaran perundingan tidak langsung untuk mencari pengganti kesepakatan nuklir 2015, yang terhenti pada tahun 2018 akibat keluarnya AS secara sepihak dari kesepakatan tersebut.
Namun, sebelum putaran keenam, Israel dan AS melancarkan agresi 12 hari terhadap Iran, yang menewaskan ratusan warga sipil.
Iran menyalahkan tuntutan AS yang berlebihan atas kegagalan perundingan tersebut, dengan mengatakan bahwa Iran tidak akan pernah menghentikan kegiatan pengayaan nuklirnya. (mm/alalam)