Teheran, LiputanIslam.com – Komandan Pasukan Quds Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Esmail Qaani memastikan kepada pemimpin sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, Mohammad Al-Daif, ihwal solidaritas Poros Resistensi dengan pejuang Palestina.
“Saudara-saudara Anda di poros al-Quds dan kelompok resistensi bersatu dengan Anda, dan mereka tidak akan membiarkan musuh mencapai tujuan kotornya di Gaza dan Palestina,” ungkap Brigjen Esmail Qaani dalam sebuah pesannya, Kamis (16/11).
Poros Perlawanan mengacu pada aliansi Iran, Suriah dan kelompok-kelompok anti-Israel di Lebanon, Irak, Yaman dan berbagai tempat lain, yang menyerang sasaran-sasaran Israel dan AS dalam beberapa pekan terakhir sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza.
Jenderal Qaani memuji Operasi Badai al-Aqsa yang dilakukan pejuang perlawanan Palestina pada 7 Oktober, yang membuat Israel lengah dan menghancurkan mitos superioritas militer dan intelijen Israel.
“Anda menciptakan sebuah epik besar yang disebut Badai al-Aqsa, yang dicapai dengan pertolongan Allah, dan dilakukan oleh para pejuang suci Brigade al-Qassam dan resistensi di Gaza,” katanya.
Dia juga menegaskan, “Palestina dan wilayahnya setelah Badai al-Aqsa tidak akan sama seperti sebelumnya.”
Qaani menambahkan, “Anda dengan jelas menunjukkan kelemahan dan kerapuhan rezim Zionis yang merebut kekuasaan, dan Anda menunjukkan dengan cara yang praktis dan tegas bahwa rezim tersebut lebih lemah dari jaring laba-laba.”
Jenderal Qaani menyatakan demikian setelah media Barat mengklaim bahwa pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mendapat sebentuk tanggapan negatif dari Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei di Teheran.
Pada hari Kamis, pejabat senior Hamas Osama Hamdan menepis klaim itu dan menyebutnya sebagai “kebohongan dan fitnah murni”,dan mengatakan bahwa kantor berita Inggris Reuters “telah menerbitkan kebohongan yang tidak berguna, bukan berita”.
“Semua orang mengetahui karakteristik hubungan antara Hamas dan Republik Islam Iran, serta pendirian negara ini dalam mendukung perjuangan dan dan resistensi bangsa Palestina, khususnya Hamas, dan mereka mengetahui pandangan Ayatullah Khamenei dalam mendukung resistensi Palestina,” terangnya.
Dia menambahkan ,“Karena itu, mengingat kebutuhan dan sifat hubungan antara kedua belah pihak, mustahil untuk mempercayai konten seperti itu,” kata Hamdan kepada kantor berita resmi Iran, IRNA.
Reuters mengklaim bahwa Haniyeh telah diberitahu bahwa karena Teheran tidak diberi tahu sebelumnya mengenai operasi 7 Oktober maka Teheran menawarkan dukungan politik kepada Hamas, namun tidak akan “intervensi secara langsung” dalam perjuangan tersebut.
Reuters juga mengklaim bahwa Haniyeh telah diminta untuk “membungkam suara-suara” di Hamas yang menyerukan Iran dan Hizbullah untuk langsung bergabung dalam perang melawan Israel “dengan kekuatan penuh.”
Hamdan mengatakan, munculnya berita-berita bias tersebut memiliki dua alasan utama.
“Pertama, kubu resistensi di Gaza telah berhasil memberikan tekanan pada rezim Zionis, dan semua orang telah menyadari besarnya kejahatan entitas Zionis dan serangannya terhadap perempuan, anak-anak dan warga sipil yang tidak berdaya. Kedua, hal ini menunjukkan efektivitas dan efisiensi kubu resistensi dalam menyerang musuh, tentara dan mesin perangnya,” papar Hamdan.
Hamdan menambahkan, “Publikasi berita-berita tersebut juga merupakan upaya untuk menghancurkan citra resistensi dan Poros Resistensi, karena pengaruh resistensi di kawasan pasti semakin meningkat, dan menimbulkan kekhawatiran besar bagi rezim Israel dan pendukungnya, sehingga memaksa mereka menggunakan segala cara untuk menyebarkan berita palsu.”
Hamdan juga mengatakanbahwa satu-satunya hal yang ingin dia katakan tentang “pertemuan positif” antara Haniyeh dan Ayatullah Khamenei adalah bahwa hal itu terjadi “sebagai kelanjutan dari hubungan yang baik dan berbeda antara Hamas dan Republik Islam Iran”. (mm/almayadeen/presstv)
Baca juga: