Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan pihaknya siap menjalani “perang Karbala” melawan pihak manapun yang hendak melucuti senjata Hizbullah, mengacu pada keputusan pemerintah Lebanon yang mendesak Hizbullah agar menyerahkan senjatanya kepada pemerintah, sesuai desakan AS dan Israel.
Dalam pidato untuk Pawai Maukib al-Ahzan pada momen peringatan Arbain Imam Husain as di kota Baalbek, Jumat (15/8), Syeikh Qassem menegaskan, “Kita berada di antara pilihan bersama al-Husain as, atau bersama Yazid. Pilihan kami adalah bersama al-Husain masa kini, yang direpresentasikan oleh anugerah dan pendirian Imam Khomaini dan penerusnya, Imam Khamenei. Kami bersama al-Husain masa kini, kami bersama kubu perlawanan, bersama Palestina, dan melawan Yazid masa kini, yang direpresentasikan oleh Amerika dan Israel. Kami selalu berdiri untuk meneguhkan kebenaran, sebesar apapun pengorbanannya.”
Dia menambahkan, “Perlawanan adalah buah hasil ajaran Karbalaisme, dan merupakan kehidupan di jalan Imam Husain as serta merupakan bendera yang akan diserahkan kepada Shahib al-Ashr wa al-Zaman (Imam Mahdi), serta merupakan kehormatan, kemuliaan, nasionalisme dan kedaulatan. Perlawanan inilah yang memberi kesaksian, dan tak perlu kesaksian resmi dari para mustakbirin dan siapapun.”
Sembari mengingatkan berbagai prestasi Hizbullah dalam perjuangan melawan Israel dan membebaskan tanah Lebanon dari pendudukan Israel pada tahun 2000, Syeikh Qassem menyindir pemerintah Lebanon dengan menegaskan, “Kami harus bertanya kepada pihak yang tidak melawan, mana kalian di depan agresi dan pendudukan, dan apa hubungan kalian dengan kedaulatan? Sedangkan kubu resistensi adalah cahaya matahari yang cemerlang bagi semua orang.”
Dia menyatakan bahwa rakyat Lebanon memandang tentara negara ini tidak akan bisa melindungi Lebanon dari agresi Israel, sementara upaya diplomatik saja tidak cukup.
Sekjen Hizbullah menjelaskan,“Sebagian besar orang Lebanon mendukung kubu resistensi dan keberlanjutan perlawanan. Keputusan pemerintah melucuti senjata kubu resistensi dan rakyat pejuang pertahanan di tengah agresi tak ubahnya dengan memudahkan pembunuhan para pejuang serta pengusiran mereka dan keluarga mereka yang ada di dalam rumah mereka. Pemerintah sebaiknya (berusaha) menghentikan agresi (Israel), memulai pembatasan senjata dengan cara mencegah kebercokolan musuh di tanah Lebanon. Dengan (perlucutan senjata) itu, pemerintah melayani agenda Israel. Apakah pemerintah senang atas pujian Netanyahu kepada keputusannya itu?”
Dia bersaran kepada pemerintah, “Jika kalian merasa tak berdaya, serahkan musuh pada perlawanan kami, dan sebagaimana dalam peperangan yang pernah terjadi berulangkali, kali ini pun Israel akan gagal.”
Syeikh Naim Qassem menyayangkan apa yang dia sebutkan bahwa “sebagian negara Arab mendukung Israel dalam menyerang kubu perlawanan dan para pejuang resistensi.”
Dia lantas menegaskan pendirian final Hizbullah terkait desakan perlucutan senjata.
“Kubu perlawanan tidak akan pernah menyerahkan senjatanya manakala agresi (Israel) berkelanjutan, dan pendudukan masih ada. Kami akan menjalani perang Karbala jika dirasa perlu dalam melawan agenda Israel dan Amerika ini, seberapapun memberatkan kami. Kami yakin bahwa kami akan menang dalam pertempuran ini,” tegasnya.
Dia juga mengisyaratkan risiko perang saudara di Lebanon jika perlucutan senjata hendak dipaksakan terhadap Hizbullah.
Dia menegaskan, “Pemerintah Lebanon harus bertanggungjawab atas ledakan dalam negeri dan kehancuran Lebanon jika kalian akan berpihak pada tipu daya pihak lain, berusaha berkonfrontasi dengan kami, dan hendak menumpas kami. Lebanon tak mungkin bisa dibangun kecuali dengan semua elemennya, ia akan tetap eksis, dan kita eksis bersama, atau selamat tinggal dunia, dan kalian harus bertanggungjawab.” (mm/alalam)