Suriah, Yaman dan Cechnya Dukung Pengakuan Putin atas Kemerdekaan Dua Wilayah di Ukraina Timur

0
333

Sanaa, LiputanIslam.com –   Pemerintah Suriah, Yaman kubu Sanaa dan Cechnya menyatakan dukungannya kepada keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah bergejolak di Ukraina timur, Donetsk dan Lugansk. Di pihak lain Uni Eropa (UE) mengutuk keras keputusan Putin tersebut.

Anggota Dewan Tinggi Keamanan Yaman Mohammad Ali Al-Houthi di Twitter, Senin (21/2), menyatakan, “Kami mendukung pengakuan atas Donetsk dan Lugansk sebagai dua negara republik yang merdeka.”

Dia juga menyatakan, “Kami menyerukan penahanan diri dan tidak terjerumus pada perang yang diinginkan untuk menguras kekuatan Rusia.”

Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan kesiapan Damaskus mengakui kemerdekaan Donetsk dan Lugansk. Anggota Duma Negara Rusia, Dmitry Sablin, kepada Sputnik mengatakan,”Presiden al-Assad mengatakan bahwa Damaskus akan siap untuk mengakui Republik Lugansk dan Donetsk.”

Presiden Cechnya Ramzan Kadyrov menyatakan dukungan penuhnya kepada keputusan Putin dan menyebutnya sebagai satu-satunya solusi bagi kebuntuan politik saat ini.

Sebelumnya, Presiden Putin dalam sebuah pidato berapi-api yang disiarkan di televisi pemerintah mengumumkan pengakuannya atas kemerdekaan Donetsk dan Lugansk. Keputusan Putin dibacakan meskipun Barat sudah memperingatkan bahwa tindakan itu akan memicu sanksi besar-besaran.

“Saya percaya perlu untuk mengambil keputusan yang lama tertunda, untuk segera mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk,” tegas Putin.

Putin juga meminta Duma Negara dan Majelis Federal untuk segera mengakui republik Donetsk dan Lugansk.

“Kami menuntut agar mereka yang merebut dan mempertahankan kekuasaan di Kiev segera menghentikan pertempuran, jika tidak, seluruh tanggung jawab atas pertumpahan darah yang berkelanjutan akan sepenuhnya jatuh pada rezim yang berkuasa di Ukraina,” desak Putin.

“Saya menganggap perlu untuk mengambil keputusan untuk mengakui republik Luhansk dan Donetsk,” lanjutnya, sembari meminta Majelis Federal untuk meratifikasi dokumen yang diperlukan.

Kecaman Keras Uni Eropa

Para pemimpin dari Uni Eropa dan Inggris berjanji Senin untuk menjatuhkan sanksi atas keputusan tersebut. Dalam sebuah pernyataan singkat, Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengaku “mengutuk sekeras mungkin keputusan Presiden Rusia melanjutkan pengakuanatas daerah-daerah yang dikendalikan non-pemerintah di oblast Donetsk dan Luhansk, Ukraina, sebagai entitas independen”.

Mengacu pada kesepakatan damai yang disepakati pada tahun 2014 dan 2015, dua pemimpin itu menambahkan, “Langkah ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta perjanjian Minsk. UE akan bereaksi dengan sanksi terhadap mereka yang terlibat dalam tindakan ilegal ini.”

Putin telah meminta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menarik pasukan dan sistem alutsista dari negara anggota di perbatasan Eropa Timur.

Pada Januari lalu, Washington dan NATO menyerahkan tanggapan tertulis atas proposal Rusia. Namun, mereka tak memberikan penjelasan kepada Rusia mengenai hal-hal yang penting secara prinsip.

Hubungan Rusia dengan NATO dan Barat kemudian memanas belakangan ini, terutama setelah Putin mengerahkan ratusan ribu tentara dan peralatan tempur ke perbatasan Ukraina. (mm/alalam/raialyoum/peu)

Baca juga:

Menlu Suriah: Jangan Biarkan Barat Rusak Hubungan Iran dan Arab

[Video:] Pasukan Sanaa Libas Pasukan Kubu Saudi di Hajjah

DISKUSI: