Damaskus, LiputanIslam.com – Suriah kembali membara dan diwarnai pertempuran besar dan sengit antara tentara negara ini dan kelompok-kelompok bersenjata di pinggiran kota Aleppo hingga menjatuhkan ratusan korban tewas sejak Rabu (28/11).
Koresponden Al-Alam Hossam Zaidan pada hari Kamis (28/11) melaporkan bahwa pertempuran terjadi di pinggiran Idlib, Suriah, dan terkonsentrasi di sekitar distrik Dadikh, di tengah pemboman intensif yang menargetkan perkumpulan, markas dan jalur pasokan militan teroris di Al-Nayrab, Sarmin, Afes, dan pinggiran kota Idlib.
Dia menjelaskan, “Desa Jubas, yang terletak di distrik Saraqeb di wilayah tengah Idlib, berada di bawah kendali tentara Suriah, dan pertempuran terjadi dari arah distrik San.”
Desa Kafr Battikh, yang terletak di pinggiran Idlib, berada di bawah kendali tentara Suriah dan pertempuran sedang terjadi di pinggiran selatannya. Jalur internasional menuju Aleppo ditutup demi mencegah jatuhnya jumlah korban sipil pengendara akibat pertempuran yang sedang berlangsung di poros Dadikh.
Serangan udara pesawat tempur Suriah di poros barat Aleppo menyebabkan kehancuran kendaraan dan markas serta kematian dan cederanya para teroris, termasuk warga negara asing.
Kelompok teroris menggunakan drone canggih, yang diyakini buatan Ukraina, dalam serangan mereka di pinggiran Aleppo dan Idlib.
Pertempuran sengit menyebabkan terbunuh dan terlukanya lebih dari 80 militan Hay’at Tahrir al-Sham dalam bentrokan yang terjadi selama berjam-jam di pinggiran Aleppo.
Rekaman video memperlihatkan pesawat tempur Suriah-Rusia mengendalikan markas kelompok teroris yang berafiliasi dengan apa yang disebut Front Al-Nusra di kota Dara Azza yang terletak di sebelah barat kota Aleppo di Suriah.
Komando Umum Angkatan Bersenjata Suriah menyatakan; “Organisasi teroris bersenjata yang berafiliasi dengan apa yang disebut Front Al-Nusra dan berlokasi di pedesaan Aleppo dan Idlib melancarkan serangan besar-besaran di front yang luas kemarin pagi, Rabu (27/11) dengan jumlah teroris yang besar, dan menggunakan senjata sedang dan berat, menargetkan desa-desa dan kota-kota serta titik-titik militer kami di wilayah tersebut.”
Komando tersebut menambahkan,“Angkatan bersenjata kami menanggapi serangan teroris, yang masih berlangsung, dan serangan terhadap organisasi teroris tersebut menimbulkan kerugian besar dalam peralatan dan jiwa.”
400 Militan Tewas
Wakil Kepala Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah, Oleg Ignasyuk, mengumumkan bahwa tentara Suriah, dengan dukungan Angkatan Udara Rusia, telah menumpas setidaknya 400 militan yang menyerang provinsi Aleppo dan Idlib.
Ignasyuk dalam konferensi pers mengatakan: “Sejak pukul 07:50 tanggal 27 November, kelompok bersenjata ilegal yang terkait dengan organisasi teroris Front Al-Nusra telah menyerang wilayah yang dikuasai oleh pemerintah Suriah di provinsi Aleppo dan Idlib. Tentara Arab Suriah bertempur dengan gigih, didukung oleh Angkatan Udara Rusia.”
Dia menambahkan, selama 24 jam terakhir, para teroris menderita kerugian besar baik peralatan maupun personel, dan sedikitnya 400 orang tewas.
Menurutnya, selama 24 jam terakhir, tercatat 13 serangan terhadap posisi pasukan pemerintah Suriah oleh pejuang Front Al-Nusra, 12 di antaranya di Provinsi Idlib, dan serangan lainnya di Provinsi Aleppo.
Jenderal Iran Terbunuh
Seorang penasihat militer dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terbunuh di Suriah dalam peristiwa serangan besar teroris terhadap posisi militer Suriah di provinsi barat laut Aleppo.
“Brigadir Jenderal Kioumars Pour Hashemi, yang dikenal sebagai Haj Hashem, salah satu pembela Makam Sayyida Zainab dan penasihat militer senior IRGC di Suriah, gugur dalam serangan semalam oleh teroris takfiri Zionis di pinggiran Aleppo,” ungkap IRGC dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.
Penasihat militer Iran, yang hadir di Suriah atas undangan resmi pemerintah Suriah, telah memainkan peran penting dalam membantu warga Suriah memerangi terorisme dan membangun perdamaian, stabilitas, dan keamanan abadi di Suriah.
Suriah dilanda pemberontakan dan terorisme yang disponsori asing sejak Maret 2011. Pemerintah Damaskus mengatakan negara-negara Barat dan sekutu regional mereka membantu kelompok-kelompok teroris untuk menciptakan malapetaka di Suriah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei memperingatkan ihwal kebangkitan kembali “kelompok teroris takfiri” di Suriah. Dia menyerukan pengambilan tindakan tegas untuk mencegah penyebaran terorisme di kawasan.
Baghaei mengatakan: “Pinggiran Aleppo dan Idlib merupakan zona ‘de-eskalasi’. Serangan kelompok teroris di daerah ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap Perjanjian Astana, dan hal ini akan menggiring kawasan kepada peningkatan ketegangan. Ketidak amanan dan instabilitas adalah bagian dari proyek Amerika-Zionis di kawasan.” (mm/alalam/raialyoum/presstv)