Suriah di PBB Sebut Erdogan Jadikan Tentara Turki Sebagai Perisai Ikhwanul Muslimin

0
15

NewYork, LiputanIslam.com –  Wakil tetap Suriah untuk PBB Bashar Jaafari menegaskan negaranya akan terus memerangi teroris di semua wilayahnya, termasuk Idlib.

“Suriah akan terus memerangi teroris di wilayahnya, Idlib adalah wilayah Suriah, sementara rezim Erdogan mencampakkan prinsip kerukunan hidup bertetangga… Keberadaan tentara Turki jauh dari titik-titik pantau menunjukkan dukungannya kepada kelompok-kelompok teroris, dan rezim Turki menjadikan titik-titik pantau di wilayah Suriah sebagai pusat operasi untuk menyokong organisasi-organisasi teroris,” ungkap Jaafari pada sidang Dewan Keamanan PBB mengenai Idlib, hari ini, Sabtu (29/2/2020).

Dia menambahkan, “Erdogan menjadikan tentara Turki sebagai perisai bagi organisasi Ikhwaul Muslimin.”

Di pihak lain, utusan Turki untuk PBB pada kesempatan yang sama menuding Presiden Suriah Bashar Assad tidak mewakili rakyat Suriah sehingga tak layak ditanggapi.

“Assad tidak mewakil rakyat Suriah, dan tak patut ditanggapi, dan keberadaan kami di Suriah utara adalah demi melindungi warga sipil,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa Ankara berkoordinasi dengan Moskow mengenai pergerakan Turki di zona de-eskalasi Suria, dan bahwa tentara Suriah sengaja menyerang pasukan Turki pada Kamis lalu.

Baca: Satu Lagi Tentara Turki Diumumkan Tewas di Suriah

“Tak syak lagi, rezim Suriah dan sekutunya berusaha mengosongkan Idlib dari penduduknya,” tudingnya.

Dia juga mengklaim bahwa pemerintah Suriah dan sekutunya berusaha menyeret Turki ke dalam perang kotor.

Rapat Deewan Keamanan PBB diselenggarakan atas usulan AS, Jerman, Inggris, Prancis, Belgia, Estonia, dan Republik Dominican. Sebagian di antara negara-negara ini menyatakan dukungannya kepada Turki.

Baca: Moskow: Tentara Suriah Berhak Membalas Serangan Teroris

Sembilan anggota Dewan Keamanan PBB Rabu lalu meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melakukan upaya lebih lanjut untuk penerapakan gencatan senjata di Idlib. Jerman bahkan memintanya pergi ke sana. Namun, menurut keterangan para pejabat, Guterres menolak  desakan Jerman itu sembari menyebutnya kontraproduktif dan mengusik Rusia. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS: