Doha, LiputanIslam.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menangguhkan semua perjalanan ke wilayah yang dikuasai Ansarullah Yaman setelah lebih banyak stafnya ditahan oleh kelompok pejuang yang didukung Iran tersebut.
Hal itu diumumkan PBB dalam sebuah pernyataannya pada hari Jumat (24/1), sehari setelah pasukan Yaman kubu Ansarullah juga menahan orang-orang yang terkait dengan kedutaan besar AS yang ditutup di Sanaa, ibu kota Yaman, dan kelompok-kelompok bantuan.
“Kemarin, otoritas de facto di Sanaa menahan personel PBB tambahan yang bekerja di wilayah yang berada di bawah kendali mereka. Untuk memastikan keamanan dan keselamatan seluruh stafnya, PBB telah menangguhkan semua pergerakan resmi ke dan di dalam wilayah yang berada di bawah kendali otoritas de facto,” ,” bunyi pernyataan itu.
PBB tidak menyebutkan berapa banyak orang yang ditahan dalam operasi terbaru oleh Houthi, namun menambahkan bahwa mereka “secara aktif terlibat dengan perwakilan senior” Ansarullah, yang telah menguasai ibu kota Yaman sejak 2014.
Ansarullah telah berperang melawan koalisi pimpinan Arab Saudi yang bertempur atas nama pemerintah Yaman yang tersingkirkan sejak 2015.
Kelompok Houthi tidak segera mengakui keputusan PBB, yang muncul saat mereka tengah meredakan serangan terhadap pengiriman dan Israel setelah gencatan senjata dicapai dalam perang Israel-Hamas di Gaza.
Ansarullah juga telah menayangkan gambar orang-orang yang mereka sebut bekerja dengan badan intelijen Barat atau Israel.
Presiden AS Donald Trump Rabu lalu memberlakukan kembali sebutan “teroris” yang pernah dia lakukan terhadap kelompok tersebut selama masa jabatan pertamanya yang kemudian dicabut oleh Presiden Joe Biden. Tindakan Trump ini berpotensi memicu ketegangan baru dengan Yaman.
Berbagai kelompok pejuang Palestina di Jalur Gaza mengecam tindakan Trump itu dan menyatakan bahwa dijuluki teroris oleh Trump bukanlah kehinaan, melainkan suatu kehormatan bagi Ansarullah Yaman.
Yaman mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana lebih dari 18 juta orang membutuhkan bantuan dan perlindungan, menurut PBB. Perang di negara itu juga telah menewaskan lebih dari 150.000 orang. (mm/aljazeera/alalam)