Teheran, LiputanIslam.com – Pasukan Yaman terus melanjutkan operasi maritimnya untuk membela bangsa Palestina. Dalam peristiwa terbaru, Angkatan Bersenjata Yaman dalam sebuah pernyataannya mengaku telah menyerang kapal Blue Lagoon I, dan kemudian situs berita Inggris UnHerd merilis laporan yang menyebutkan bahwa era hegemoni Barat telah berakhir.
Inheard menyatakan Yaman sekarang menguasai Laut Merah, dan bahwa blokade laut yang diberlakukan oleh Sanaa semakin kuat, sementara kegagalan AS dan Barat untuk mencabutnya, menunjukkan bahwa masalahnya bukan kurangnya kemauan, melainkan ketidakmampuan AS dan Barat untuk berbuat apapun.
Rasa malu untuk mengakui ketidakmampuan ini menjadi sebab tidak adanya liputan media secara eksktensif atas apa yang terjadi di Laut Merah.
Jelas bahwa AS kali ini tidak mengerti harus berbuat apa. Pada Desember tahun lalu, AL AS dan Pusat Komando AS (CENTCOM) untuk pertama kalinya melancarkan operasi Garda Kemakmuran (Prosperity Guardian), yang sedianya dapat melindungi pergerakan kapal dari hantam rudal.
Pada Januari lalu, ketika misi tersebut mulai gagal, mereka meluncurkan Operasi Pemanah Poseidon (Poseidon Archer), yang dirancang untuk mengebom pasukan Yaman, menundukkan mereka, dan mencegah mereka melancarkan serangan lebih lanjut terhadap perdagangan. Namun hasilnya sangat mengecewakan, dan AS kehilangan sejumlah drone mahal MQ-9 akibat rudal Yaman anti-pesawat.
Situs Inheard secara blak-blakan menyatakan bahwa masalahnya bukan bahwa AS memerlukan kehendak dan penyingsingan lengan baju. Sebab, AS sudah berusaha dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menentukan dan menyerang persenjataan Yaman dan posisi-posisi peluncuran di wilayah Yaman secara akurat.
Namun, problemanya hanya satu, yaitu bahwa AS tak dapat melakukannya. Inilah alasan di balik kebungkaman AS dalam menghadapi kekalahan di Laut Merah. Kenyataannya ialah bahwa era hegemoni Barat telah berakhir. (mm/alalam)