
Aden, LiputanIslam.com – Pesawat tempur Saudi membombardir milisi separatis yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan, hingga menewaskan dan melukai sejumlah orang di tengah ketegangan antara kedua negara Arab Teluk Persia tersebut.
Mohammed Abdulmalik, kepala Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA di Wadi Hadramaut dan Gurun Hadramaut, mengatakan tujuh serangan udara menghantam kamp al-Khasah pada hari Jumat (2/1), menewaskan tujuh separatis dan melukai lebih dari 20 lainnya.
Dia menambahkan bahwa serangan lebih lanjut menghantam lokasi lain di wilayah yang sama.
Serangan udara tersebut merupakan respon terhadap gerak maju milisi STC secara besar-besaran hingga merebut sebagian besar provinsi Hadramaut dan Mahra yang kaya minyak, dan mengusir pasukan yang berafiliasi dengan Pasukan Perisai Nasional yang didukung Saudi. Hal ini tak pelak memicu kemarahan Riyadh.
Serangan udara tersebut terjadi tak lama setelah pasukan pro-Saudi melancarkan kampanye untuk secara damai mengambil alih kendali situs militer di Hadramaut, yang berbatasan dengan Arab Saudi.
“Operasi ini bukanlah deklarasi perang, atau upaya untuk meningkatkan ketegangan,” kata Gubernur Hadramaut Salem al-Khanbashi, yang juga komandan pasukan yang didukung Saudi di provinsi tersebut.
“Operasi ini tidak menargetkan kelompok politik atau sosial mana pun, melainkan bertujuan menyerahkan situs-situs militer secara damai dan sistematis,”katanya.
Sumber-sumber Saudi mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut dilakukan oleh koalisi pimpinan Saudi. Sebuah sumber yang dekat dengan militer Saudi memperingatkan, “Ini tidak akan berhenti sampai STC menarik diri dari kedua provinsi tersebut.”
Separatis selatan menyerukan agar Yaman Selatan kembali memisahkan diri dari Yaman, seperti yang terjadi dari tahun 1967 hingga 1990.
Amr al-Bidh, perwakilan urusan luar negeri untuk STC, menegaskan bahwa Riyadh tidak berniat untuk menjaga operasi balasan mereka tetap damai.
“Arab Saudi dengan sengaja menyesatkan komunitas internasional dengan mengumumkan ‘operasi damai’ yang sama sekali tidak mereka niatkan untuk tetap damai,” tulisnya di media sosial. Dia menambahkan, “Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa mereka melancarkan tujuh serangan udara beberapa menit kemudian.” (mm/alalam)