Rafah, LiputanIslam.com – Serangan Israel masih berkelanjutan dan belakangan ini menyasar beberapa wilayah di Jalur Gaza pada hari Ahad (2/6), termasuk kota Rafah, sehari setelah mediator internasional meminta Israel dan Hamas untuk “menyimpulkan” perjanjian gencatan senjata, delapan bulan setelah pecahnya perang.
Saksi mata melaporkan bahwa tentara pendudukan Israel melancarkan serangan baru yang menyasar kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah, dan empat orang gugur dalam serangan terhadap rumah keluarga Abu Nar di Jalan Al-Eshreen di Kamp Al-Nuseirat.
Kementerian Kesehatan Hamas pada hari Minggu juga mengumumkan gugurnya 60 orang dalam 24 jam terakhir, sehingga jumlah total syuhada bertambah menjadi 36.439, yang sebagian besarnya adalah warga sipil, sejak pecah perang pada tanggal 7 Oktober menyusul serangan Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lain terhadap entitas Zionis Israel.
Meskipun ada seruan internasional, pada bulan Mei tentara Israel mulai melancarkan serangan darat di kota Rafah di ujung selatan Jalur Gaza, yang belakangan menjadi tempat perlindungan terakhir bagi ratusan ribu pengungsi di tengah pertempuran dan kehancuran di seluruh wilayah Jalur Gaza.
Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan pada hari Ahad bahwa “akibat operasi militer Israel, ribuan keluarga terpaksa mengungsi, dan seluruh 36 tempat penampungan UNRWA di Rafah kini kosong.”
Osama Al-Kahlot dari ruang operasi darurat Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza pada hari Ahad mengatakan kepada AFP, “Kami menerima sinyal setiap hari dan terus menerus dari Rafah, tetapi sangat sulit untuk merespon korban luka dan korban jiwa akibat dari pemboman Israel yang terus berlanjut selain menargetkan para kru.” (mm/raialyoum)