Gaza, LiputanIslam.com – Serangan Israel ke Gaza berlanjut selama tiga hari berturut-turut, dan yang terbaru telah menggugurkan lebih dari 90 orang, termasuk bayi yang baru lahir, dalam serangan pada dini hari.
Setidaknya 95 orang gugur pada Rabu malam dan Kamis dini hari (20/3) di Gaza selatan dan utara, menurut pejabat kesehatan di daerah pesisir itu. Banyak orang lainnya terluka dalam serangan itu.
Kantor berita Palestina, Quds News Network, mengatakan sedikitnya 20 orang gugur di Khan Younis di selatan setelah pasukan Israel menyerang beberapa rumah di daerah itu.
Sementara itu, di Gaza utara, serangan terhadap sebuah rumah keluarga di lingkungan as-Sultan, sebelah barat Beit Lahiya, menggugurkan sedikitnya tujuh orang.
“Serangan Israel di seluruh Jalur Gaza semakin intensif, terutama saat fajar, ketika sedikitnya 11 bangunan tempat tinggal diratakan oleh pasukan Israel,” kata Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaza tengah.
“Di antara para korban yang gugur hari ini adalah seorang bayi baru lahir, anak-anak, dan wanita,” kata Abu Azzoum.
“Ada pendekatan strategis yang jelas yang digunakan Israel, yang tidak memberikan peringatan apa pun kepada warga sipil sebelum menyerang gedung-gedung tempat mereka berlindung,” tambahnya.
Pembunuhan terbaru terjadi setelah Israel meruntuhkan gencatan senjata yang telah berlangsung hampir dua bulan di Gaza pada hari Selasa.
Sejak itu, serangan Israel telah menggugurkan sedikitnya 506 orang, termasuk 200 anak-anak, kata Kementerian Kesehatan Gaza. Sedikitnya 909 orang terluka, tambahnya.
Pada hari Rabu, seorang staf asing Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tewas dan lima pekerja lainnya terluka dalam serangan udara Israel di sebuah lokasi PBB di Gaza tengah.
Kepala bantuan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menyebut serangan itu “menyebalkan”. Dia mengatakan serangan itu menargetkan komplek PBB yang “jelas ditunjuk” di Gaza, dan PBB menuntut “jawaban”.
“Hukum internasional jelas. Warga sipil – termasuk staf PBB dan pekerja kemanusiaan – tidak boleh menjadi sasaran. Komunitas internasional harus bergabung dengan kami dalam menuntut penyelidikan dan akuntabilitas yang tulus,” kata Fletcher dalam sebuah pernyataan, tanpa menyalahkan siapa pun atas pembunuhan itu. (mm/aljazeera)