Madjalshams, LiputanIslam.com – Setidaknya 11 orang tewas dan 19 lainnya terluka akibat serangan roket pada hari Sabtu (27/7) di lapangan sepak bola di kota Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, kata pihak Israel.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan di antara korban terdapat anak kecil, dan menuduh kelompok Hizbullah Lebanon sebagai pelaku serangan itu, namun Hizbullah tersebut membantah terlibat.
“Hizbullah bertanggung jawab atas pembunuhan anak-anak yang tidak bersalah. Kami akan mempersiapkan respon terhadap Hizbullah, kami akan bertindak,” kata Hagari.
Hizbullah segera membantah tuduhan itu dengan menyatakan pihaknya, “dengan tegas menyangkal tuduhan yang dilaporkan oleh media musuh tertentu dan berbagai platform media mengenai penargetan Majdal Shams.”
“Perlawanan Islam tidak ada hubungannya dengan insiden ini,” ungkap Hizbullah.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku akan pulang lebih awal dari perjalanannya ke AS, di mana dia bertemu dengan beberapa pejabat senior AS.
“Segera setelah mengetahui bencana di Majdal Shams, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengarahkan agar kepulangannya ke Israel dimajukan secepat mungkin,” ungkap kantor Netanyahu dalam sebuah postingan di X.
Ditujukan kepada pemimpin komunitas Druze di Israel, Netanyahu juga mengatakan, “Hizbullah akan membayar harga yang mahal, harga yang sejauh ini belum dibayar.”
Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengutuk serangan roket tersebut, dengan menyatakan, “Dukungan kami terhadap keamanan Israel sangat kuat dan tidak tergoyahkan terhadap semua kelompok teroris yang didukung Iran, termasuk Hizbullah Lebanon.”
Pemerintah Lebanon, dalam sebuah pernyataan, mendesak “penghentian segera permusuhan di semua lini” dan mengutuk serangan terhadap warga sipil.
Beberapa sumber informasi mengatakan bahwa roket yang jatuh di Majdal Shams adalah rudal pencegat Israel yang menyimpang dari jalurnya dan jatuh di kota ini. Sumber lain percaya bahwa insiden tersebut disengaja oleh Rezim Zionis Israel dengan tujuan mendapatkan dukungan AS kepada Netanyahu, yang sedang berusaha membenarkan kejahatannya di Gaza dan ingin memperluas cakupan operasinya ke wilayah Lebanon. (mm/aljazeera/alalam)