Gaza, LiputanIslam.com – Puluhan warga Palestina gugur akibat serangan rudal dan artileri Rezim Zionis Israel yang menghantam sebuah sekolah di utara Jalur Gaza yang menampung para pengungsi.
Kantor berita Palestina Shehab melaporkan sekitar 50 warga Palestina gugur akibat serangan rudal rezim Israel ke Sekolah al-Buraq di Gaza.
Direktur Rumah Sakit al-Shifa, tempat para korban dirawat, menyebutkan sekitar 50 orang gugur.
“Sekitar 50 orang syahid ditemukan di dalam sekolah al-Buraq… di lingkungan al-Nasr di Gaza setelah serangan rudal dan artileri yang menargetkan sekolah tersebut pagi ini,” kata Mohammad Abu Salmiya, direktur Rumah Sakit al-Shifa, Jumat (10/11).
Hamas menyebut serangan Israel terhadap warga sipil sebagai “aib di hadapan kemanusiaan”, namun faksi pejuang itu juga menegaskan, “Rakyat kami tidak akan dikalahkan oleh tindakan kriminal dan fasis ini.”
Hamas menilai serangan Israel yang mengabaikan “semua hukum kemanusiaan internasional” dan didukung oleh pemerintah AS tidak akan mematahkan perlawanan rakyat Palestina.
Serangan brutal Israel di Gaza sejak 7 Oktober telah merenggut lebih dari 11.000 nyawa tak berdosa di wilayah yang terkepung tersebut.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatan di Gaza yang dilanda perang telah “mencapai titik yang tidak dapat kembali lagi” akibat gencarnya pemboman Israel.
“Kekurangan pasokan, persediaan yang terbatas dan semakin tidak aman, sistem layanan kesehatan di Gaza telah mencapai titik yang tidak dapat kembali lagi dan mempertaruhkan nyawa ribuan orang yang terluka, sakit, dan kehilangan tempat tinggal,” ungkap ICRC dalam sebuah pernyataan, Jumat.
Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas menyebut Jalur Gaza sebagai bagian “integral” dari Palestina dan menyatakan kesiapan PA untuk mengambil kendali atas wilayah yang diblokade setelah berakhirnya genosida Israel.
Abbas menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidatonya pada hari Jumat yang menandai peringatan 19 tahun meninggalnya pemimpin Palestina Yasser Arafat, yang memimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) hingga tahun 2004. (mm/presstv)
Baca juga: