Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah mengutuk serangan terbaru Israel yang menewaskan dua anak kecil, dan bersumpah akan segera membalasnya.
Ketua dewan eksekutif Hizbullah Hashem Safieddine menegaskan, “Serangan hari ini terhadap Lebanon selatan, yang menyebabkan sejumlah warga sipil gugur, tidak dapat dibiarkan tanpa balasan. Pasti akan ada respons dan itu akan mencapai tingkat yang diperlukan,” kata.
Kantor Berita Nasional, NNA,yang dikelola pemerintah Lebanon melaporkan bahwa sejumlah tempur Israel menyerang sebuah rumah di Sawwaneh dengan dua serangan, “menyebabkan kehancurannya” dan kematian tiga orang anggota satu keluarga, yaitu seorang wanita Suriah dan dua anak, berusia 13 dan 2 tahun.
NNA juga menyebutkan bahwa serangan Israel di Adshit, Lebanon selatan, menggugurkan seorang pejuang Hizbullah, melukai 10 orang lainnya, menghancurkan secara total sebuah bangunan dan menyebabkan kerusakan besar pada bangunan komersial, toko dan rumah di dekatnya.
Israel mengatakan pihaknya telah membalas tembakan roket dari Lebanon yang menewaskan seorang tentara dan melukai sedikitnya delapan orang di kota Safed di wilayah pendudukan.
Hizbullah dan rezim Israel hampir setiap hari terlibat baku tembak sejak pemboman Israel di Gaza dimulai pada bulan Oktober 2023.
Hizbullah mengatakan operasinya dimaksudkan untuk mendukung perlawanan Gaza.
Panglima militer Israel Herzi Halevi usai bertemu dengan para komandan di dekat perbatasan Lebanon mengatakan, “Kampanye Israel berikutnya akan lebih bersifat ofensif, dan kami akan menggunakan semua alat dan kemampuan. Kami mengintensifkan serangan sepanjang waktu.”
Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Selasa mengatakan bahwa perlawanan Lebanon hanya akan menghentikan baku tembak ketika gencatan senjata penuh diterapkan di Jalur Gaza.
“Pada hari itu, ketika penembakan berhenti di Gaza, kami akan menghentikan penembakan di wilayah selatan… Jika mereka (Israel) memperluas konfrontasi, kami akan melakukan hal yang sama,” tegasnya. (mm/presstv)