Gaza, LiputanIslam.com – Sekira 50 warga Palestina gugur akibat serangan pasukan pendudukan Zionis Israel di berbagai daerah di Jalur Gaza sejak dini hari Selasa (7/1), menurut laporan reporter Al-Mayadeen. Sebelumnya, presiden terpilih AS Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Hamas.
Dilaporkan antara lain bahwa 18 warga Palestina, termasuk delapan anak-anak, gugur akibat serangan pasukan Zionis ke beberapa daerah dan tenda-tenda yang menampung pengungsi di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan.
Sementara di sebelah timur kota Gaaza, empat orang gugur dan sejumlah lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel terhadap sekelompok warga di lingkungan Al-Tuffah di kawasan Al-Shaaf.
Pasukan Israel juga mengebom lingkungan Al-Zaytoun di tenggara Kota Gaza, dan pesawat Israel juga menyerang sebuah rumah di sekitar Masjid Beersheba di bagian utara lingkungan Sheikh Radwan, sebelah utara Kota Gaza.
Pesawat pendudukan juga melancarkan serangan di wilayah selatan lingkungan Al-Sabra di Kota Gaza.
Di Jalur Gaza tengah, pasukan Zionis melepaskan tembakan ke arah kawasan Al-Dawa dan perusahaan listrik, di timur laut kamp Nuseirat.
Sejumlah warga gugur dan terluka akibat serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Jalan Old Gaza di Jabalia al-Balad, sebelah utara Jalur Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, jumlah korban gugur akibat agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 sampai sekarang bertambah menjadi lebih dari 45.885 orang, sedangkan korban luka 109.196 orang.
Sehari sebelumnya, Presiden terpilih AS Donald Trump mengaku sebagai “sahabat terbaik” bagi Israel, sembari mengulangi ancaman bahwa akan ada “neraka yang harus dibayar” jika Hamas tidak melepaskan “sandera” pada saat dia dilantik.
Trump menyatakan demikian ketika penyiar kondang Hugh Hewitt bertanya kepadanya apakah dia akan memberikan bantuan militer “tanpa gangguan” kepada Israel.
Trump yang akan dilantik sekira dua minggu lagi menjawab, “Saya adalah sahabat terbaik secara mutlak bagi Israel. Lihatlah apa yang terjadi pada segala sesuatu yang telah saya lakukan untuk Israel, termasuk bahwa Yerussalem (Al-Quds) harus menjadi ibu kota baginya, dan pendirian Kedubes AS di sana.”
Dia kemudian mengancam, “Jika para sandera tidak dibebaskan pada saat saya menjabat (pada siang hari tanggal 20 Januari), maka akan ada konsekuensi yang sangat besar. Saya rasa saya tidak perlu memikirkan masalah ini lagi.”
Pada tanggal 1 Desember lalu, Trump di situs Truth Social menyatakan: “Mereka yang bertanggung jawab atas hal ini akan terkena dampak yang lebih parah dibandingkan siapa pun dalam sejarah Amerika Serikat yang panjang dan padat karya. Bebaskan para sandera sekarang!” (mm/almayadeen/raialyoum)