Gaza, LiputanIslam.com – Tentara Israel melancarkan sedikitnya 20 serangan udara di Gaza hingga menggugurkan sedikitnya 42 orang dan mengancam gencatan senjata yang ditengahi AS untuk mengakhiri perang dua tahun.
Tentara Israel pada hari Minggu (19/10) mengaku melancarkan “gelombang besar dan ekstensif” serangan terhadap puluhan target dengan dalih bahwa pasukannya diserang oleh pejuang Hamas di Rafah. Tuduhan ini dibantah oleh Hamas.
Beberapa jam kemudian, tentara Israel mengeluarkan pernyataan bahwa pasukannya mulai “memperkuat” gencatan senjata di Gaza “setelah serangkaian serangan signifikan”. Secara terpisah, seorang pejabat keamanan Israel mengatakan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza dihentikan sementara setelah dugaan pelanggaran Hamas.
Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa Israel membatalkan keputusannya untuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, menyusul tekanan AS. Tel Aviv berjanji kepada Washington bahwa mereka akan membuka kembali penyeberangan tersebut pada hari Senin.
Saluran swasta Israel, Channel 12, mengutip keterangan seorang pejabat anonim Israel bahwa Tel Aviv “membatalkan keputusannya untuk tidak mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza hingga pemberitahuan lebih lanjut, menyusul tekanan AS.”
Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan sejumlah serangan udara Israel menggugurkan sedikitnya 42 warga Palestina di Jalur Gaza pada hari Minggu. Selain itu, Kantor Media Gaza mengatakan 97 warga Palestina gugur dan 230 lainnya luka-luka sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober.
Tentara Israel mengatakan dua anggotanya tewas dalam “pertempuran” di Gaza pada hari Minggu, dan merespon dengan serangan dan tembakan artileri setelah pasukannya diserang oleh Hamas. Namun, sayap bersenjata Hamas mengatakan pihaknya mematuhi perjanjian gencatan senjata.
“Kami tidak mengetahui adanya insiden atau bentrokan yang terjadi di wilayah Rafah, karena wilayah tersebut merupakan zona merah di bawah kendali pasukan pendudukan (Israel), dan kontak dengan kelompok-kelompok kami yang tersisa di sana telah terputus sejak perang berlanjut pada bulan Maret tahun ini,” kata Brigade Qassam, sayap bersenjata Hamas, dalam sebuah pernyataan.
Serangan Israel di selatan terjadi ketika sumber medis di Rumah Sakit Al-Aqsa Gaza mengatakan bahwa lima warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka akibat serangan Israel di az-Zawayda di Gaza tengah.
Tiga warga Palestina juga gugurdan beberapa lainnya terluka akibat serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat, kata sumber medis di Rumah Sakit al-Awda, sementara sebelumnya, sedikitnya dua warga Palestina gugur akibat serangan udara Israel di Gaza utara, menurut kantor berita Wafa.
Suasana Berubah di Israel
Serangan Israel terjadi setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan konsultasi dengan para petinggi keamanan dan memerintahkan militer untuk mengambil “tindakan tegas” terhadap pelanggaran gencatan senjata.
Laporan media Israel menyebutkan bahwa Israel bertindak di Rafah untuk melindungi proksi bersenjata di Gaza yang telah didukungnya selama perang, di tengah kekhawatiran mereka menghadapi pembalasan dari Hamas sejak gencatan senjata.
“Ada laporan bahwa mungkin para pejuang Hamas mencoba menyerang milisi itu di Rafah,” katanya.
Odeh mengatakan bahwa begitu laporan tentang bentrokan di Rafah muncul di Israel, suasana di sana berubah “hampir seketika”.
Hamas Bantah Klaim AS
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri AS mengklaim pihaknya memiliki “laporan kredibel” yang menunjukkan bahwa Hamas akan segera melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Israel – klaim yang dibantah Hamas.
“Serangan terencana terhadap warga sipil Palestina ini merupakan pelanggaran langsung dan berat terhadap perjanjian gencatan senjata dan merusak kemajuan signifikan yang dicapai melalui upaya mediasi,” kata departemen tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.
Hamas menepis tuduhan AS tersebut dan menilainya ” sejalan dengan propaganda Israel yang menyesatkan dan memberikan kedok untuk melanjutkan kejahatan pendudukan dan agresi terorganisir” terhadap warga Palestina di Gaza.
Hamas menuduh Israel mendukung geng-geng bersenjata yang beroperasi di wilayah yang dikuasai Israel, dan mendesak Washington untuk menekan Israel agar berhenti mendukung geng-geng tersebut dan “memberi mereka tempat berlindung yang aman”.
Secara terpisah, delegasi Hamas yang dipimpin oleh petinggi Khalil al-Hayya tiba di ibu kota Mesir, Kairo, pada Minggu malam, “untuk menindaklanjuti implementasi perjanjian gencatan senjata dengan para mediator, faksi-faksi Palestina, dan pasukan”, kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.
Trump Tuding Iran
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa tidak ada “jadwal pasti” untuk perlucutan senjata Hamas.
Dalam wawancara dengan Fox Business Channel di AS dia juga mengatakan bahwa mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza hanya mungkin “setelah penyingkiran Iran dari proses ini dan penghilangan kemampuan nuklirnya.”
Dia menjelaskan bahwa pemerintahannya memantau perkembangan di Jalur Gaza dengan saksama.
Ketika ditanya apakah ada jadwal pasti untuk melucuti senjata Hamas, Trump menjawab: “Tidak ada jadwal pasti, tidak ada jalur yang pasti, tapi kita lihat saja nanti.” (mm/aljazeera/anatolia/raialyoum)