Sanaa, LiputanIslam.com – Koalisi agresor AS-Inggris melancarkan lima serangan udara terhadap Distrik Harf Sufyan di provinsi Amran dan daerah Sanhan di Sanaa, ibu kota Yaman, menurut laporan Al-Alam, Rabu (8/1).
Banyak analis meyakini bahwa aliansi AS-Inggris yang telah berlangsung selama setahun namun gagal mencapai tujuannya melindungi entitas pendudukan Israel dan kepentingannya di Laut Merah dan Laut Arab.
Setahun setelah agresi AS-Inggris terhadap Yaman dalam apa yang disebut koalisi Penjaga Kemakmuran (Prosperity Guardian), koalisi ini melancarkan sejumlah serangan udara ke berbagai wilayah Yaman hingga menjatuhkan korban jiwa dan materi.
Bertepatan dengan peringatan satu tahun agresi, koalisi itu melancarkan lima serangan udara di berbagai wilayah di Distrik Harf Sufyan di Provinsi Amran, Yaman utara, dan melancarkan dua serangan udara di Distrik Sanhan di Provinsi Sana’a.
Sumber-sumber Yaman mengatakan bahwa beberapa serangan di antaranya menyasar bekas kamp dan beberapa lain menyasar wilayah sipil hingga menyebab kerugian materi pada properti warga.
Koalisi AS-Inggris bertujuan untuk menghentikan operasi Yaman yang dilancarkan terhadap entitas pendudukan Israel dan mengakhiri operasi dukungan Yaman kepada Palestina.
Para analis dan pakar militer Yaman memastikan agresi itu gagal mencapai tujuannya di Yaman. Menurut mereka, alih-alih terpengaruh oleh serangan AS-Inggris, kemampuan dan keahlian militer Yaman justru berkembang dan berakumulasi.
Orang-orang Yaman juga percaya bahwa Angkatan Bersenjata negara ini, yang mendapat pengarahan dari Sayid Abdul-Malik al-Houthi, mampu memberikan pelajaran baru kepada Angkatan Laut AS di Laut Merah, dan strategi jangkauan jauhnya dapat mematahkan strategi maritim AS beserta armada dan semua kapal perusaknya.
Mengenai opsi-opsi pemerintahan baru AS dalam menghadapi realitas militer di Laut Merah, para pakar menegaskan bahwa opsi pemerintahan AS yang dipimpin Trump pasca kegagalan Aliansi Penjaga Kemakmuran di Laut Merah dan Laut Arab akan berfokus pada opsi mengulang skenario peristiwa di Suriah. Namun, para pakar itu menilai data Yaman tidak sama dengan data Suriah dalam hal geografi, populasi, dan kepemimpinan, sehingga pemerintahan Trump akan menghadapi kesulitan dalam memperlakukan Yaman di masa mendatang. (mm/alalam)