Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa serangan baru terhadap Iran akan memiliki konsekuensi serius bagi seluruh kawasan Asia Barat, karena Teheran akan merespons dengan keras dan tegas terhadap segala bentuk agresi.
“Perang baru terhadap Iran dapat membakar seluruh kawasan kali ini,” kata Syeikh Naim Qassem dalam pidato kepada ribuan simpatisan Hizbullah yang menghadiri pertemuan besar di ibu kota Lebanon, Beirut, pada Senin malam (26/1).
Para peserta menunjukkan solidaritas mereka dengan Iran dan mengutuk ancaman terhadap Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Syeikh Qassem bersumpah bahwa Hizbullah akan selalu berdiri bersama rakyat Republik Islam dan Ayatullah Khamenei.
“Hizbullah meyakini Wilayatul Fakih sebagai suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan dan prinsip dasar,” tegasnya.
Syeikh Qassem mengatakan bahwa ketika Presiden AS Donald Trump mengancam Ayatullah Khamenei, ia mengancam puluhan juta umat Muslim di seluruh dunia yang menganggapnya sebagai otoritas keagamaan mereka.
“Diam bukanlah pilihan ketika ancaman pembunuhan ditujukan kepada Ayatullah Khamenei. Kami memandang ancaman terhadap beliau juga ditujukan kepada kami. Kami memiliki wewenang penuh untuk mengambil tindakan apa pun yang kami anggap tepat,” tegas pemimpin Hizbullah tersebut.
Syeikh Qassem kemudian memuji Iran sebagai mercusuar kebebasan, dan menyatakan bahwa Republik Islam telah berhasil maju di berbagai bidang sains, sosial, moral, dan budaya.
Sekjen Hizbullah menyebutkan bahwa Iran mengalami agresi militer yang terang-terangan dan tanpa provokasi selama 12 hari pada Juni tahun lalu, tetapi berhasil tetap tangguh dan menggagalkan rencana AS-Israel melalui kerja sama dan di bawah kepemimpinan bijaksana Ayatullah Khamenei.
“Musuh baru-baru ini berupaya menggulingkan pemerintahan Islam di Iran dengan mengeksploitasi kondisi sosial-ekonomi, dan menyusupkan perusak dan sabotase ke dalam protes damai yang sah,” katanya.
Dia mengecam kemunafikan Barat terkait HAM di Iran, sembari menyinggung dukungan publik yang besar di dalam Iran kepada pemimpin besar Iran.
Sekjen Hizbullah itu juga menegaskan hak Iran untuk memiliki program nuklir damai, kekuatan rudal, dan kemampuan militer lainnya untuk membela diri dalam menghadapi potensi ancaman. Dia mengatakan Republik Islam Iran juga berhak untuk mendukung kaum tertindas.
“Amerika Serikat dan Israel mencoba menghubungkan perkembangan yang terjadi di Lebanon, Gaza, Suriah, Iran, dan tempat lain di kawasan ini sebagai bagian dari proyek kolonial yang lebih luas,” kata Syeikh Qassem.
Pemimpin Hizbullah itu menyatakan bahwa musuh-musuh bertekad untuk menyerang setiap inisiatif perlawanan, di mana pun ia berkembang di kawasan ini.
Syeikh Qassem mengatakan para mediator internasional telah menghubungi Hizbullah selama dua bulan terakhir, dan bertanya apakah kelompok perlawanan itu akan tetap berada di luar serangan AS-Israel terhadap Iran.
“Para mediator memberi tahu kami dengan jelas bahwa Israel dan AS sedang mempertimbangkan apakah akan lebih baik untuk menyerang Hizbullah terlebih dahulu dan kemudian Iran, atau menyerang Iran terlebih dahulu dan kemudian Hizbullah, atau menyerang keduanya secara bersamaan,” katanya.
Dia menambahkan, “Pesan-pesan demikian berarti bahwa Hizbullah termasuk dan menjadi sasaran dalam setiap potensi tindakan agresi [terhadap Iran]. Kami bertekad untuk membela diri.”
Pemimpin Hizbullah itu menekankan bahwa kelompok tersebut tidak akan bersikap netral dan metode intervensinya akan dipilih berdasarkan keadaan di medan perang.
Syekh Qassem juga berjanji bahwa kelompoknya tidak akan pernah menyerah.
“Dengan konsesi dan penyerahan diri, kita akan kehilangan segalanya. Sama sekali tidak ada batasan. Tetapi dengan pertahanan, harapan tetap ada. Kita selalu memiliki berbagai pilihan… Jangan mengancam kami dengan kematian. Kematian bukan di tangan Anda. Kematian hanya ada di tangan Allah Yang Maha Kuasa,” pungkasnya. (mm/alalam/presstv)