Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, menilai sikap Presiden AS Donald Trump terhadap masalah Palestina sangat berbahaya, dan bertujuan menamatkan riwayat negeri dan bangsa Palestina.
Dalam pidatonya pada hari Ahad (16/2) dia menyebut pendirian Trump sebagai “genosida politik” setelah Washington dan Tel Aviv gagal mencapai rencana mereka dalam Perang Badai Al-Aqsa.
Syeikh Qassem menegaskan kecaman Hizbullah atas setiap upaya pengusiran warga Palestina dari tanah mereka, dan penolakannya terhadap pengusiran mereka ke Yordania, Mesir atau Arab Saudi, sembari memperingatkan bahwa semua yang dilakukan Israel berada di bawah manajemen langsung AS.
Dia mengimbau negara-negara Arab dan Islam mengambil sikap yang jelas dan tegas terhadap rencana ini, dan memperingatkan bahaya proyek AS bagi seluruh kawasan Timur Tengah. Dia juga menekankan bahwa Hizbullah siap berkontribusi pada rencana Arab atau Islam mana pun yang bertujuan melawan pengusiran warga Palestina.
Syeikh Naim Qassem juga menegaskan tidak ada pembenaran bagi pendudukan di wilayah mana pun di Lebanon, dan mendesak pemerintah Lebanon bersikap tegas dalam masalah ini. Dia juga mengemukakan tanggung jawab pemerintah Lebanon untuk membangun kembali apa yang telah dihancurkan oleh agresi Israel, dan menekankan bahwa Hizbullah tidak akan menelantarkan rakyat, baik dalam bentuk tempat tinggal, rehabilitasi maupun rekonstuksi.
Mengenai keputusan Perdana Menteri Lebanon untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Beirut, Syeikh Qassem menilai keputusan ini diambil demi melaksana keputusan Israel dengan kedok “keselamatan penerbangan dan warga sipil.” Dia meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini dan mengambil sikap yang benar-benar berdaulat.
Sekjen Hizbullah juga menekankan pihaknya menentang serangan apa pun terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB UNIFIL.
Mengenai rencana prosesi pemakaman dua pendahulunya, Syahid Hassan Nasrallah dan Syahid Safiruddin Al-Hashemi, dia mengatakan, “Pada tanggal 23 Februari, kami akan memakamkan dua (mantan) Sekjen (Hizbullah), Sayid Nasrallah dan Sayd Al-Hashemi, dan orang-orang dari negara-negara Arab dan Islam dari berbagai golongan dan pihak akan berpartisipasi dalam prosesi pemakaman akbar tersebut.”
Dia mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi secara luas dan menunjukkan tingkat kedisiplinan yang setinggi mungkin. (mm/alalam)