Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Lebanon, Syeikh Naim Qassem, menegaskan keharusan penarikan tentara Zionis Israel dari Lebanon selatan, dan memastikan bahwa Hizbullah menentang “pembenaran apa pun untuk perpanjangan perjanjian gencatan senjata yang berakhir pada hari Minggu.”
Syeikh Qassem dalam pidato yang disiarkan di televisi pada hari Senin (27/1) mengatakan, “Hizbullah berkomitmen untuk tidak melanggar perjanjian, sementara Israel melanggar perjanjian sebanyak 1.350 kali. Pada satu titik, kami berpikir untuk menanggapi serangan tersebut, tapi mereka (otoritas Lebanon) mengatakan kepada kami bahwa lebih baik kami bersabar sedikit.”
Dia menambahkan, “Pemandangan pelanggaran Israel itu menyakitkan, namun kami memutuskan untuk bersabar dan supaya negara memikul tanggung jawabnya. Kami menganggap bahwa negaralah yang pada prinsipnya berkepentingan melawan Israel. Pelanggaran perjanjian tersebut menegaskan kebutuhan Lebanon kepada perlawanan.”
Syeikh Qassem mengatakan, “Kami menyetujui perjanjian gencatan senjata karena negara memutuskan untuk tampil melindungi perbatasan dan menghalau Israel. Ini merupakan kesempatan bagi negara untuk menjalankan tugasnya dan menguji kemampuannya secara politik.”
Dia juga mengatakan, “Kami berkomitmen dan memilih bersabar, tidak menanggapi pelanggaran Israel meskipun merasa terhina, dan terjadi aksi-aksi balas dendam. Kami menang karena kami kembali, dan penjajah akan hengkang dan terpaksa mundur.”
Dia lantas menegaskan, “Para pejuang perlawanan(Hizbullah) tidak meninggalkan medan perang, dan kubu perlawanan tetap teguh dan kuat….Operasi perlawanan meningkat, pasukan Israel tak bisa maju kecuali hanya sejarak ratusan meter saja, dan ini adalah berkat keteguhan para pejuang serta dukungan para pengungsi dan warga.”
Dia menyebutkan bahwa Israellah yang menghendaki gencatan senjata, dan kemudian tercapai kesepakatan Israel dengan pemerintah Lebanon. Menurutnya, ini merupakan kemenangan bagi kubu perlawanan.
Sekjen Hizbullah berterima kasih kepada Yaman “atas segala pengorbanannya”, dan Irak “beserta semua anak bangsanya, para marji’ dan para relawanannya,” dan juga Lebanon “yang telah mempersembahkan pemuka syuhada umat, Sayyid Hassan Nasrallah.”
Dia juga menegaskan bahwa “agresi terhadap Lebanon dan Gaza didukung oleh AS dan Barat tanpa kendali apa pun,” dan bahwa “agresi ini ditujukan untuk menghabisi perlawanan.”
Syeikh Qassem menilai tujuan dari Badai Al-Aqsa telah tercapai, karena proyek Israel untuk menghancurkan perlawanan dan Hamas akhirnya gagal.
“Kemenangan Gaza adalah kemenangan bagi rakyat Palestina dan bagi semua orang di kawasan sekitar yang mendukung tujuan ini, dan bagi semua kaum merdeka di dunia yang mendukung dan menyokongnya,” ungkapnya.
Dia juga menegaskan, “Kita berhadapan dengan rezim pendudukan yang mengagresi dan menolak mundur, sementara kubu perlawanan berhak berbuat apa yang dipandangnya relavan mengenai bentuk dan karakteristik perlawanan dan penentuan waktunya…. Rezim pendudukan terus melanggar kedaulatan, maka semua orang dari pihak pemerintah hingga rakyat, kubu perlawanan, partai dan golongan bertanggungjawab menghadapinya.”
Sekjen Hizbullah lantas memperingatkan, “Segala risiko penundaan penarikan pasukan Israel harus dianggung oleh PBB dan Amerika, dan kami menolak penundaan penarikan mundur Israel barang sehari.” (mm/raialyoum)