Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam statemen pertamanya setelah dimulainya penerapan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel menyatakan pihaknya mencapai “kemenangan besar” dalam perang melawan Israel, dan tidak akan berhenti mendukung Gaza.
“Saya memutuskan untuk mengumumkan hasilnya secara resmi dan jelas bahwa kami mengalami kemenangan besar yang melebihi kemenangan pada bulan Juli 2006. Kami menang karena kami mencegah musuh menghancurkan Hizbullah. Kami menang karena kami mencegahnya mengakhiri perlawanan atau melemahkannya hingga tak berkutik,” ujarnya pada hari Jumat (29/11).
Dia memuji ketabahan penduduk yang terdampak perang dengan mengatakan, “Anda sekalian telah bersabar, berjihad, dan pindah dari satu tempat ke tempat lain, sementara putra-putra Anda bertempur di lembah-lembah dan mengerahkan segenap upaya mereka untuk melawan musuh.”
Syeikh Naim Qassem menegaskan pihaknya tidak menghendaki perang, melainkan ingin membela Palestina.
“Ketika kami meluncurkan front dukungan (untuk Gaza), kami ulangi bahwa kami tak menghendaki perang, tapi kami siap jika musuh, Israel, memaksakannya… Kami takkan pernah berhenti mendukung Palestina dengan segala cara dan sarana,” ungkapnya.
Dia juga menyebutkan bahwa pihaknya menjalin koordinasi “tingkat tinggi” dengan tentara Lebanon dalam penerapan kesepakatan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel.
Dia mengatakan bahwa Hizbullah telah membuktikan kesiapannya dalam perang, dan bahwa rencana-rencana yang ditetapkan oleh pendahulunya, Syahid Hassan Nasrallah, berjalan efektif dan mengindahkan semua perkembangan.
Syeikh Naim Qassem menilai keteguhan para pejuang dan keberanian mereka menyongsong mati syahid “telah memukau dunia, menakutkan tentara Israel, dan memfrustasikan musuh.”
Menurutnya, Rezim Zionis Israel menderita kekalahan dari semua aspek sehingga berusaha menjelaskan kepada publiknya alasan menerima kesepakatan gencatan senjata dengan menyebutkan keperluan tentara Israel kepada pemulihan kondisi, termasuk di bidang persenjataan.
Syeikh Naim Qassem menyebutkan bahwa kekalahan musuh terlihat antara lain dari pulangnya pengungsi Lebanon segera setelah gencatan senjata mulai diterapkan, sedangkan “ratusan ribu pengungsi Israel, alih-alih 70 ribu” masih mengungsi dan tak berani pulang.
Mengenai perjanjian gencatan senjata itu sendiri, dia menjelaskan bahwa itu “bukanlah perjanjian ataupun kesepakatan baru yang memerlukan tanda tangan berbagai negara” melainkan “merupakan program pelaksanaan resolusi 1701 (Dewan Keamanan PBB), yang porosnya adalah wilayah selatan Sungai Litani, dan itu menekankan keharusan tentara Israel keluar dari semua tempat yang mereka duduki.” (mm/alalam/raialyoum)