Beirut, LiputanIslam.com – Pemimpin Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrallah menyatakan pasukan Zionis Israel menderita kerugian besar dalam pertempuran melawan Hizbullah, namun Israel sangat merahasiakan kerugian tersebut.
Sayid Nasrallah dalam pidato pada hari Jumat (5/1) mula-mula memastikan pembunuhan Israel terhadap tokoh Hamas Syekh Saleh Al-Arouri dan sejumlah rekannya di pinggiran selatan Beirut tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
“Jika kita tetap diam mengenai pembunuhan Al-Arouri, Lebanon akan terekspos. Balasan pasti akan datang….Serangan terhadap Syekh Saleh Al-Arouri pasti tidak akan lepas dari tanggapan, dan keputusan sekarang ada di tangan lapangan, yang akan menanggapi serangan ini,” ujarnya.
Dia menyebutkan bahwa operasi Hizbullah saat ini di perbatasan selatan Lebanon memberikan “peluang bersejarah” bagi Lebanon untuk membebaskan wilayahnya yang diduduki oleh Israel..
“Ketika sasarannya berada di Lebanon dan pinggiran selatan, kita tidak dapat menerima pelanggaran besar dan berbahaya ini,” tuturnya.
Sayid Nasrallah menilai AS tidak ingin memperluas perang karena sibuk dengan front Ukraina dan bersiap menerima kekalahan strategis melawan Rusia.
Dia juga menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel enggan mengakui korban tewas dan luka di pihak Zionis karena ini adalah bagian dari kebijakan kerahasiaan umum mengenai kerugian mereka.
Dia menyebutkan bahwa Hizbullah telah melakukan 670 operasi yang menyasar 48 lokasi perbatasan Israel, 11 lokasi belakang dan 17 permukiman.
“Apa yang terjadi di front utara (Palestina pendudukan) adalah penghinaan nyata terhadap tentara musuh,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa Hizbullah sejauh ini telah melakukan 494 serangan, terlibat dalam pertempuran di sepanjang area lebih dari 100 km, dan menghancurkan banyak peralatan teknis dan intelijen di sepanjang perbatasan.
“Sejumlah besar kendaraan dan tank juga dihancurkan di sepanjang perbatasan. Tentara Israel kemudian melarikan diri dari lokasi tersebut ke arah pemukiman, karena takut bahwa pejuang perlawanan akan bergerak menuju lokasi tersebut dan menempatinya,” imbuhnya.
Dia memastikan operasi militer Hizbullah sangat melelahkan bagi musuh, yang “sangat menjaga kerahasiaan mengenai kerugian besar yang dideritanya”.
Menurutnya, para pakar di Israel mengatakan bahwa kerugian yang diderita Israel tiga kali lebih besar daripada jumlah yang diumumkan, apalagi data yang ada menunjukkan bahwa di delapan rumah sakit di utara Palestina pendudukan saja terdapat lebih dari 2000 korban luka.
Sekjen Hizbullah menekankan bahwa tujuan Hizbullah menyerang Israel adalah demi menekan rezim Zionis itu agar menghentikan invasi militer ke Jalur Gaza, dan demi mengurangi beban para pejuang Palestina di Jalur Gaza.
Sayid Nasrallah juga menyinggung sepak terjang para pejuang resistensi Irak demi membela Gaza, yang sekaligus menjadi “kesempatan yang sebenarnya bagi Irak untuk lepas dari pasukan pendudukan AS”.
Dia menjelaskan bahwa saat ini tersedia peluang bersejarah bagi pemerintah Irak, Dewan Perwakilan Rakyat, dan rakyat Irak, “agar para penjajah dan pembunuh yang menumpahkan darah orang Irak, Iran, dan masyarakat di kawasan angkat kaki.”
Dia menekankan bahwa Irak tidak membutuhkan AS untuk melawan ISIS karena AS justru mensponsori ISIS.
Sedangkan mengenai front Yaman, dia mengatakan,”Rezim-rezim (Arab) yang bungkam dan abai terkejut oleh apa yang dilakukan oleh orang-orang Yaman di Laut Merah”.
Menurutnya, pemerintah Sanaa kini bukan lagi sebuah kelompok internal Yaman, melainkan “sudah menjadi bagian dari perimbangan internasional dan menjadi pusat perhatian dunia.
“Yaman telah semakin kuat di mata dunia Arab dan Islam serta di mata kawan maupun lawan melalui sikap yang diambilnya atas Gaza,” ungkap Sayid Nasrallah.
Dia juga menegaskan, “Orang yang meremehkan aksi-aksi Poros Resistensi sekarang adalah mereka yang tak berbuat apapun sejak awal agresi terhadap Gaza.” (mm/raialyoum)
