Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah bersumpah bahwa Rezim Zionis Israel akan mendapat reaksi sengit jika mencoba melakukan upaya pembunuhan di wilayah Lebanon.
Ancaman terhadap Israel itu dikemukakan dalam pidato di televisi pada Senin malam (28/8), yang disampaikan pada peringatan pembebasan perbatasan utara dan timur Lebanon oleh tentara negara ini bersama para pejuang Hizbullah pada 28 Agustus 2017 dari pendudukan kawanan teroris ISIS dan kelompok-kelompok teroris takfiri lainnya.
Peristiwa itu oleh Nasrallah disebut sebagai “pembebasan kedua” setelah pembebasan pertama pada tahun 2000, ketika Hizbullah, bersama dengan kelompok pejuang Lebanon lainnya, berhasil memaksa pasukan pendudukan Israel mundur dari Lebanon Selatan dan wilayah Bekaa Barat.
Dalam pidatonya pada hari Senin, Sayid Nasrallah menyatakan Israel telah melakukan banyak pembunuhan, namun tak sanggup melemahkan gerakan resistensi terhadapnya.
“Tidak ada ancaman yang mampu menghentikan barisan resistensi dan pergerakannya, melainkan justru akan membuatnya lebih teguh dan kuat,” tegasnya.
Dia menambahkan, “Tidak ada upaya pembunuhan di tanah Lebanon yang menargetkan warga negara Lebanon, Palestina atau Iran atau negara lain yang tidak ditanggapi,” tambahnya.
Dia juga menyebutkan, “Musuh harus mengakui bahwa mereka telah menemui jalan buntu historis, eksistensial dan strategis, dan tidak ada jalan keluarnya.”
Mengenai situasi terkini di Suriah, di mana beberapa daerah kerap dilanda rasa protes anti-pemerintah Suriah, Sekjen Hizbullah mengatakan bahwa apa yang terjadi di Suriah telah direncanakan oleh Amerika Serikat (AS), yang juga telah meminta bantuan kepada sejumlah negara di kawasan.
“Sejak hari pertama, komandan perang yang sedang berlangsung di Suriah adalah AS, dan duta besar AS telah mengakui hal ini,” katanya.
Nasrallah melanjutkan dengan menekankan bahwa kawanan teroris bersenjata takfiri, yang berperang melawan pemerintah Suriah, hanyalah alat di tangan AS.
“ISIS hanyalah dalih bagi pasukan AS untuk kembali ke Irak, dan mereka juga menggunakannya sebagai alasan untuk memasuki Suriah dan menduduki bagian negara ini yang terletak di sebelah timur [Sungai] Eufrat,” terangnya.
Menyinggung sanksi keras Washington terhadap Damaskus, Sayid Nasrallah mengatakan bahwa AS menerapkan sanksi dan apa yang disebut Caesar Act setelah Washington menyadari bahwa opsi militer telah gagal dan posisi pemerintah Suriah terus membaik.
Sekjen Hizbullah memastikan AS yang menduduki daerah-daerah Suriah yang kaya minyak di seberang timur Sungai Eufrat, terus menjarah minyak Suriah.
Menurutnya, Suriah dan sekutunya dapat dengan mudah membebaskan wilayah timur Efrat.
“Jika Amerika ingin berperang, kami akan menyambutnya, dan ini akan menjadi perang nyata yang akan mengubah semua keadaan,” tegasnya.
Mengenai Palestina, Sayid Nasrallah menepis klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran berada di balik gejolak perlawanan para pejuang Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Dia menilai klaim demikian hanya membuktikan kebodohan para pejabat Israel, karena bangsa Palestina sudah berjuang bahkan sebelum kemenangan revolusi Islam Iran. (mm/almayadeen)
Baca juga: