Sedikitnya 8 Orang Tewas dalam Demo Protes di Sudan, PBB Prihatin

0
110

Khartoum, LiputanIslam.com  Sumber medis menyatakan bahwa sedikitnya delapan pengunjuk rasa tewas tertembak di Sudan dalam peristiwa pawai unjuk rasa besar yang digelar pada hari Kamis (30/6), sehingga mengundang keprihatinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saksi mata mengatakan bahwa pasukan keamanan di Khartoum tengah menembakkan gas air mata dan meriam air untuk mencegah membengkaknya jumlah pengunjuk rasa yang berbaris menuju istana presiden.

Jumlah massa di Khartoum dan kota kembarnya Omdurman dan Bahri diperkirakan mencapai setidaknya puluhan ribu, jumlah terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Tujuh orang dilaporkan tewas ketika massa turun ke jalan-jalan di Sudan meski penguasa telah memblokir sarana komunikasi yang digunakan para aktivis untuk  menyerukan aksi penentangan terhadap pihak militer yang telah merebut kekuasaan delapan bulan lalu.

Komite Dokter Sudan di Twitter menyatakan bahwa lima orang ditembak mati ketika polisi menembakkan peluru tajam ke pengunjuk rasa di Omdurman.

Di seberang Sungai Nil di Khartoum, satu orang lain tewas akibat luka tembak di kepala dan seorang anak juga tewas tertembak di dada, menurut komite tersebut, yang melacak korban  kekerasan dalam aksi protes.

Para pengunjuk rasa memblokir beberapa jalan raya utama ibu kota dengan batu dan ban yang terbakar.

Rekaman video yang diposting di media sosial memperlihatkan ribuan orang mengibarkan bendera Sudan dan berlarian di bawah gumpalan asap gas air mata.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric di New York menyesalkan kekerasan tersebut dengan mengatakan, “Kami sangat, sangat prihatin atas berlanjutnya penggunaan kekuatan berlebihan oleh pasukan keamanan pemerintah di Sudan saat mereka menanggapi protes dan terutama apa yang telah kita lihat hari ini.”

Dia menambahkan, “Sangat penting bahwa orang diizinkan untuk mengekspresikan diri mereka secara bebas dan damai, dan pasukan keamanan di negara mana pun harus ada di sana untuk melindungi hak orang untuk melakukan itu, bukan untuk menghalanginya.” (mm/reuters)

DISKUSI: