Beirut, LiputanIslam.com – Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan jumlah sementara 22 orang, termasuk seorang tentara, gugur dan 124 orang lainnya, termasuk 9 anak-anak, terluka akibat serangan dan penembakan pasukan pendudukan Israel terhadap warga sipil di Lebanon selatan pada hari Minggu (26/1).
Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Masyarakat menyebutkan bahwa warga diserang ketika hendak mendatangi kampung-kampung halaman mereka yang masih diduduki oleh tentara Zionis Israel.
Ratusan penduduk desa dan kota selatan membawa bendera Hizbullah melintasi penghalang dan pembatas yang dipasang oleh tentara pendudukan untuk mencegah mereka kembali dan memasuki desa mereka.
Komando Angkatan Darat mengonfirmasi bahwa mereka mengawal masuknya warga ke sejumlah daerah perbatasan, di tengah kegigihan pasukan pendudukan dalam melanggar kedaulatan Lebanon, menyerang warga, dan enggam mematuhi perjanjian untuk penghentian agresi dan penarikan pasukan Zionis.
Sumber-sumber Lebanon menyatakan bahwa ratusan mobil telah menunggu selama berjam-jam di jalan sepanjang dua kilometer, menunggu tentara Lebanon membuka pos pemeriksaan di jalan yang menghubungkan Bint Jbeil dengan Maroun dan Aitaroun.
Anggota Parlemen Lebanon Sayid Ibrahim al-Musawi mengatakan bahwa kembalinya penduduk ke desa dan kota mereka pada hari Minggu meskipun ada ancaman musuh merupakan bukti nyata bahwa mereka berakar kuat di tanah air mereka dan tidak berniat untuk pergi.
“Rakyat Lebanon telah membuat pilihan yang teguh untuk tidak meninggalkan tanah mereka, meskipun pasukan Israel mengabaikan batas waktu penarikan yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata 60 hari,” katanya.
Semangat yang tak pernah padam ini, lanjut al-Moussawi, terlihat jelas pada dini hari Minggu pagi saat ribuan orang, pria dan wanita, menentang ancaman untuk pulang ke rumah. (mm/alalam/presstv)