Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam sebuah acara dukacita atas gugurnya Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dan beberapa rekannya menyatakan bahwa Sayid Raisi hendaklah dipandang sebagai suri tauladan bagi setiap orang dalam memangku jabatan apapun. Dia juga menyebutkan bahwa prosesi pemakaman Sayid Raisi adalah prosesi pemakaman yang terbesar ketiga setelah prosesi pemakamaan pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomaini, dan mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Jenderal Qasem Soleimani.
“Kita memerlukan suri tauladan, panutan dan model karena tanpa suri tauladan maka apa yang kita imani hanya akan tetap menjadi sebagai pikiran dan tinta di atas kertas. Kita harus memandang Syahid Sayyid Raisi sebagai suri tauladan dalam setiap jabatan yang diemban,” tuturnya pada acara yang berlangsung pada hari Jumat (24/5).
Dia menjelaskan, “Syahid Raisi meraih gelar yang kita dengar dalam beberapa hari belakangan ini sebagai ‘Pelayan Al-Ridha’ karena jabatan pengelola komplek makam Radhawi (Imam Ali Ridha as) merupakan tanggungjawab yang sangat besar, mengingat bahwa wakaf komplek ini tergolong wakaf terbesar di dunia. Ketika mengemban jabatan itu, Syahid Raisi menciptakan suatu perubahan besar dalam pengelolaan dan pengembangan komplek makam suci dan layanan terpuji yang dimanfaatkan oleh kaum papa dan fakir miskin.”
Sayid Nasrallah menekankan bahwa Syahid Sayid Raisi adalah sosok “fakih, ulama, mujtahid dan mukmin yang tawadhu dan sangat pemberani dalam menghadapi kaum munafik dan musuh, serta percaya kepada keabsahan resistensi (anti Israel), dan dia adalah pelayan sedemikian rupa bagi negaranya sehingga tak punya hari libur, dan dia juga patuh kepada pemimpin besarnya.”
Sayid Nasrallah menjelaskan bahwa sejak kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979, Iran telah menjadi sasaran blokade ekonomi, sanksi yang semakin ketat dari hari ke hari, perang yang diberlakukan secara global, dan aksi teror dan pembunuhan di dalam negeri. Ketika ada presiden di Iran yang mengambil tanggung jawab, maka dia akan berhadapan dengan perkara-perkara yang sangat besar, termasuk dalam urusan ekonomi , pendapatan, mata uang yang sulit, tingginya harga barang, dan kompleksitas kebijakan luar negeri, yang semuanya merupakan bagian dampak dari sanksi dan blokade dari musuh-musuh Iran.
Mengenai layanan yang diberikan oleh Sayid Raisi, Sayid Nasrallah mengatakan bahwa pada masa pemerintahanya, sebanyak lebih dari 1.7 juta petak tanah disediakan untuk membangun rumah bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan, produksi minyak meningkat hingga 3.5 juta barel, keputusan diambil untuk pemberian air dan listrik secara gratis kepada keluarga miskin, pertumbuhan ekonomi meningkat hingga 6 persen, hubungan dengan Timur dipertahankan, hubungan dengan Barat dipertahankan hingga tingkat tertentu, masuk ke berbagai organisasi internasional , dan efektif dalam penanggulangan dampak pandemi Covid-19.
Sayid Nasrallah juga menyebutkan menyatakan bahwa ketika Sayid Raisi menjabat sebagai presiden , dia bekerja melalui kepresidenan untuk mendukung gerakan perlawanan dan mendukung para pejuang resistensi secara blak-blakan di setiap tingkatan.
“Komitmen Sayid Raisi sangat tinggi dan besar dalam hal ini. Syahid Raisi sangat percaya pada perjuangan Palestina, kubu resistensi, dan gerakan perlawanan, dan dia sangat memusuhi Zionis,” tuturnya.
Dia mencatat bahwa di masa pemerintahan Sayid Raisi terjadi perkembangan kehadiran diplomatik Iran, dan prioritas diberikan pada hubungan dengan negara-negara tetangga Iran dan Timur, sementara menteri negerinya yang juga gugur, Syahid Hossein Amir Abdollahian, memiliki kepribadian yang sangat mencintai Lebanon, Palestina serta gerakan-gerakan resistensi.
Sayid Nasrallah lantas menegaskan: “Kami tidak melihat dari Syahid Raisi dan Syahid Abdollahian kecuali kebaikan, pertolongan, dukungan, kecintaan, dan pengayoman. Kami sangat berterima kasih atas semua itu.”
Dia menambahkan, “Salah satu sifat terpenting dua figur ini adalah kerendah hatian. Kecintaan orang-orang mulia ini tercurah kepada fakir miskin. Keduanya menyayangi dan menghormati kaum fakir, dan inilah ajaran Islam dan Nabi Besar Muhammad saw serta didikan Imam Khomaini qs.”
Pemimpin Hizbullah menyebutkan bahwa lautan manusia yang terlihat dalam prosesi pemakaman syuhada Raisi dan rekan-rekannya mulai dari kota Tabriz hingga kota Masyhad merupakan satu pesan yang sangat penting serta merupakan prosesi pemakaman yang terbesar ketiga sepanjang sejarah manusia setelah Imam Khomaini dan Syahid Qasem Solaimani.
“Adapun pesan dari pemandangan dalam prosesi megakolosal ini ialah kesetiaan, baiat, dan tekad yang bulat (rakyat Iran) pada khittah Imam Khomaini dan pemerintahan Republik Islam Iran,” pungkasnya. (mm/alalam)
